HOME | SHOP | TOOLBAR | RADIO | SIGN UP | LOG IN | GAMES | VIDEOS | CLUBS | BLOGS | LAYOUTS | BROWSE | SEARCH | INVITE | HELP  
 Sangkan Paraning Dumadi   
  
NAGASASRA SABUK INTEN - 100   

NAGASASRA SABUK INTEN - 100
Karya SH Mintarja

 

KETIKA penduduk Pangrantunan yang sedang mengejar Mahesa Jenar itu melihat buruannya meloncat dengan tangkasnya, seolah-olah melampaui kemampuan manusia biasa, serta dalam waktu yang hanya sekejap itu telah dapat dengan tiba-tiba berdiri di luar kepungan mereka, hati mereka tergetar hebat. Segera mereka sadar bahwa itu pastilah orang yang berilmu tinggi. Karena itu, kembali mereka berhenti beberapa langkah di sekeliling Mahesa Jenar, yang dengan tegapnya berdiri di atas kedua kakinya yang kokoh kuat bagaikan tonggak baja.

Kesadaran mereka akan ketinggian ilmu orang asing itu, ternyata telah menuntun ingatan penduduk Pangrantunan kepada kekaguman-kekaguman mereka terhadap orang dari daerah mereka sendiri. Terutama pemimpin mereka yang mereka cintai dengan sepenuh hati, yang sejak beberapa tahun lalu telah menyisihkan diri. Yaitu Ki Ageng Sora Dipayana.

Tetapi tak seorang pun diantara mereka yang dapat mengenal, bahwa orang yang mereka kenangkan itu, telah ada diantara mereka. Bahkan baru saja mengalami siksaan di hadapan mereka. Orang kedua yang mereka kagumi adalah Ki Ageng Gajah Sora, putra sulung Ki Ageng Sora Dipayana. Meskipun belum dapat memiliki seluruh ketinggian ilmu ayahnya, Ki Ageng Gajah Sora telah dapat digolongkan manusia yang memiliki kelebihan dibanding manusia biasa.

Orang ketiga sesudah itu adalah Ki Ageng Lembu Sora, adik Ki Ageng Gajah Sora. Orang inilah yang sekarang menerima kepercayaan dari ayahnya untuk menggantikan kedudukannya sebagai kepala daerah perdikan Pangrantunan bagian selatan. Tetapi tabiat seseorang ternyata tidak dapat ditentukan dari tetesan darah yang menurunkan. Ki Ageng Lembu Sora yang oleh ayahnya diharapkan akan dapat melanjutkan cita-citanya untuk mengembangkan daerahnya, ternyata yang terjadi adalah kebalikannya. Ia lebih mementingkan kesenangan sendiri.

Bahkan kadang-kadang ia sampai melupakan kedudukannya sebagai pengayom. Malahan tidak jarang ia berbuat hal yang dapat melukai hati rakyatnya. Hal-hal yang demikian itu menimbulkan banyak kegelisahan dan ketidakpuasan di kalangan rakyat, yang akhirnya menjadikan rakyat tidak peduli lagi kepada keadaan di sekelilingnya, kecuali kepentingan mereka sendiri-sendiri.

Dan sekarang tiba-tiba muncul seorang yang agaknya termasuk orang yang berilmu tinggi dan bertabiat aneh. Kalau orang ini memaksakan sesuatu peraturan yang bertentangan dengan kemauan gerombolan Sima Rodra, maka akan celakalah nasib penduduk setempat. Sebab mereka tentu tidak akan mampu melawan salah satu diantaranya.

Sementara itu ketika setiap otak dari mereka yang ada di halaman itu sedang dipenuhi dengan berbagai masalah dan persoalan-persoalan, terdengarlah Mahesa Jenar mulai berkata, "Saudara-saudara penduduk Pangrantunan. Setelah kita bermain-main sebentar, aku mendapat kesimpulan bahwa daerah ini bukanlah daerah yang seharusnya dapat menjadi lembu perahan bagi gerombolan Sima Rodra. Seberapakah sebenarnya kekuatan dari gerombolan itu dibandingkan dengan keperkasaan kalian? Kalau kalian merasa bahwa apa yang kalian sediakan untuk gerombolan Sima Rodra setiap bulannya bukanlah kekayaan yang berharga, memang mungkin sekali. Tetapi arti dari kesediaan saudara-saudara menyerahkan pajak kepada gerombolan itulah yang sebenarnya patut disesalkan. Sebab dengan demikian kalian telah menempatkan diri kalian sendiri di bawah kekuasaan Sima Rodra. Apalagi kalau kalian sampai pada perhitungan nilai dari barang-barang itu kalian kumpulkan, lalu kalian jual. Maka pastilah dalam waktu yang singkat kalian dapat mendirikan banjar-banjar desa, tempat-tempat ibadah dan sebagainya. Tetapi lebih dari itu, kalian adalah rakyat yang merdeka, bukan rakyat yang diperbudak oleh Sima Rodra, yang patut mempergunakan segala sumber kekayaan kalian untuk kepentingan kalian sendiri. Nah saudara-saudara, pertahankan kemerdekaan ini. Kalau perlu dengan darah dan jiwa kalian."


Kata-kata Mahesa Jenar ini terasa seperti membakar dada mereka yang mendengarnya, disamping perasaan malu dan sesal yang menghantam bertubi-tubi.

Hampir semua orang tampak menundukkan mukanya, seolah-olah hendak langsung memandang kekecilan jiwa mereka masing-masing. Disamping itu, makin jelaslah dalam ingatan mereka, keperwiraan serta kejantanan yang pernah mereka alami semasa pemerintahan Ki Ageng Sora Dipayana.

Mahesa Jenar dapat merasakan, bahwa kata-katanya berhasil menusuk langsung kedalam sanubari pendengarnya. Karena itu sambungnya, Nah saudara, keputusan terakhir adalah di tangan saudara-saudara. Masihkah saudara ingin merdeka, ataukah saudara telah merasa berbahagia dalam penindasan dan pemerasan Sima Rodra? Kalau saudara memilih yang kedua maka aku bersedia untuk saudara-saudara tangkap serta saudara-saudara serahkan kepada Sima Rodra sebagai tumbal keselamatan penduduk.

Kalau kata-kata Mahesa Jenar yang terdahulu telah membakar dada rakyat Pangrantunan, maka kata-katanya yang terakhir itu bagaikan cermin yang langsung diletakkan di hadapan mereka. Sehingga semakin jelaslah noda-noda yang melekat dalam wajah kepribadian mereka.

Untuk mempertegas kata-katanya, Mahesa Jenar melanjutkan, "Saudara-saudara, kalau saudara-saudara sudah merasa bimbang maka sebaiknya saudara-saudara pulang saja sambil merenungkan pilihan manakah yang saudara-saudara anggap paling sesuai dengan sifat serta watak saudara-saudara. Sekarang saudara-saudara kami persilahkan meninggalkan halaman ini. Selama saudara merenungkan kemungkinan yang paling menguntungkan bagi saudara-saudara, aku ingin minta ijin untuk dua-tiga hari. Setelah itu, aku akan datang lagi untuk menerima keputusan kalian."


Mendengar kata-kata Mahesa Jenar yang terakhir, penduduk Pangrantunan itu saling pandang. Mereka tidak tahu apa yang mereka lakukan. Sampai kembali Mahesa Jenar berkata, "Aku harap kalian meninggalkan halaman ini untuk merenungkan apa yang akan saudara lakukan. Aku yakin bahwa saudara akan memilih keputusan yang benar demi tanah tercinta serta kebesaran nama daerah ini, yang telah diletakkan oleh Ki Ageng Sora Dipayana."

Meskipun Mahesa Jenar mengucapkan kata-katanya dengan lunak serta sopan, tetapi tajamnya seperti sembilu yang langsung membelah jantung mereka, sehingga terasa suatu desiran yang pedih di dalam dada masing-masing.

 

Posted: 4/11/2009 at 00:55Read 112 times | 0 comments | Leave Comment 
  Marsono 
38 years old
Male


Last Login: 11/20/2009

Purchase Marsono
View My: Blog | Pictures | Videos | Layouts
  SUBSCRIBE
  USER OPTIONS
  RECENT BLOG ENTRIES
NAGASASRA SABUK INTEN - 420
NAGASASRA SABUK INTEN - 419
NAGASASRA SABUK INTEN - 418
NAGASASRA SABUK INTEN - 417
NAGASASRA SABUK INTEN - 416
  BLOG ARCHIVES
2009
January March April May June July August September October November
2008
December

HOME | PRIVACY POLICY | TERMS OF SERVICE | REPORT CONTENT | CONTACT YUWIE | SPAM
©2007-2009 Yuwie.com