Once Upon In Rome(indonesian language)
Sore itu, di pusat
kota Roma, sebuah tandu yang diusung empat orang budak pria berbadan tegap dan
berkulit gelap diiringi dua orang budak wanita meninggalkan sebuah gedung
pertunjukan teater. Sebenarnya mereka tidak sendirian, karena beberapa orang
budak lain juga mengusung tandu-tandu yang sebagian besar berisikan petinggi
Romawi meninggalkan gedung pertunjukan. Pada masa itu, pertunjukan teater
menjadi hiburan yang umum dan digemari oleh masyarakat Romawi, khususnya
kalangan atas dan terpandang. Namun di antara tandu yang meninggalkan gedung
teater, tandu yang dengan kelambu biru langit transparan serta diusung empat
orang budak itulah yang menjadi perhatian utama masyarakat sekitar. Beberapa
orang memberikan jalan dan bahkan memberi salam pada sosok yang berada di atas
tandu.
Siapakah yang berada
di dalam tandu itu?
Seorang gadis cantik
menyembulkan kepala dari balik kelambu tandu sambil mengayunkan kepala terhadap
beberapa orang teman yang menyapanya. Wajah gadis berusia 17 tahun itu sangat
cantik dan sedang mekar-mekarnya, rambutnya yang berwarna coklat panjang
bergelombang menambah aksen keindahan tubuhnya yang tinggi langsing dan mata
biru yang mempesona memancar penuh kehangatan. Nama gadis itu adalah Claudia
Faustina. Tidak ada orang di Roma yang tidak kenal kepadanya, terlebih ia
adalah putri jenderal kenamaan pasukan Romawi yang bernama Suetonius, pahlawan
perang dan sosok yang amat disegani di kalangan petinggi Romawi.
Claudia dikenal
sebagai salah satu wanita tercantik di Roma saat itu, sampai-sampai sang kaisar
Tiberius (42 SM-37 M) pun memuji kecantikannya ketika berkunjung ke rumah
Suetonius. Sang kaisar membandingkannya dengan Hellen dari Troy, putri
legendaris yang kecantikannya memicu Perang Troya yang terkenal itu. Tiberius
sendiri memiliki kecenderungan seksual yang lebih menyukai anak-anak di bawah
umur alias pedofil, sebenarnya hal ini bisa dikatakan suatu berkat bagi Claudia
karena kalau Tiberius tertarik padanya pasti ia sudah dijadikan selir oleh sang
penguasa yang lebih pantas jadi kakeknya itu, hidup sebagai selir seorang
kaisar tentunya akan sangat berkecukupan dan bergelimang harta. Namun ayahanda
Claudia, Suetonius telah mempertunangkan Claudia dengan Vitelius, putra salah
seorang kolega. Menurut rencana, Suetonius akan menikahkan keduanya setelah ia
dan pemuda itu kembali dari kampanye militer menumpas pemberontakan Yahudi yang
baru-baru ini meletus di daerah pendudukan Romawi di Timur Tengah.
Selang beberapa saat
kemudian, tandu itu sampailah di depan gerbang kediaman keluarga Suetonius yang
megah. Beberapa orang prajurit penjaga yang mengenali memberikan salam lalu
segera membukakan gerbang. Claudia menjejakkan kaki ke tanah dan keluar dari
tandu dibantu oleh salah seorang budak wanita yang mengiringi perjalanannya.
“Aku lelah sekali
hari ini, ingin beristirahat sebentar. Pasti kalian juga begitu, pulang dan
beristirahatlah !†kata Claudia pada para budak yang sedari tadi mengiringi.
Setelah memberikan
salam, keempat budak pria dan kedua budak wanita kembali ke tempat pemondokan
mereka yang juga berada di komplek rumah dinas Suetonius.
Claudia menyusuri
koridor rumahnya yang besar dan megah, disisi-sisinya terdapat patung-patung
antik bergaya Romawi, di beberapa sudut juga terdapat koleksi barang-barang
yang didapat oleh Suetonius semasa perang di berbagai wilayah kerajaan Romawi,
mulai dari wilayah suku Germanik di utara sampai ke timur tengah. Claudia ingin
mengunjungi ibunya sebentar sebelum masuk ke kamar dan istirahat, namun di
depan kamar ibunya ia mendengar sesuatu.
Suara itu adalah
desahan nafas penuh nafsu yang keluar dari mulut sang ibu!
Dengan jantung
berdetak kencang, Claudia menempelkan telinga ke pintu yang masih tertutup.
Selain suara desahan ibunya, Claudia juga mendengar suara erangan pria. Siapa
gerangan pria yang berada di kamar ibunya? Ayahanda Suetonius masih berada di
medan perang Israel dan baru akan kembali kemungkinan akhir tahun ini, lalu
siapa yang berada di dalam kamar sang ibu?
Pelan-pelan ia
mencoba mendorong pintu itu tapi tidak bergerak, sepertinya dipalang dari
dalam. Karena penasaran, maka gadis itupun memutar keluar dan mencoba melihat
melalui jendela. Jendela kamar ibunya terletak di sudut yang agak terpencil
dari rumah dinas yang megah ini, ia berharap menemukan celah untuk melihat apa
yang sedang terjadi di dalam. Claudia begitu tercekat dan jantungnya serasa mau
berhenti begitu melihat dari celah jendela bermozaik yang sedikit terbuka untuk
keluar masuknya udara.
Ia melihat dengan
mata kepala sendiri, ibunya yang telanjang bulat tengah digumuli oleh dua orang
budak Nubia (sekarang wilayah Afrika Utara) yang ia tahu bernama Kasha dan
Pyankhi. Valeria, ibu Claudia dan istri Suetonius adalah seorang wanita berusia
34 tahun yang cantik, tubuhnya masih ramping dan seksi walaupun pernah melahirkan
Claudia. Ia memiliki rambut hitam sedada yang lurus, biasanya disanggul seperti
umumnya wanita-wanita Roma yang sudah menikah. Nampaknya mata biru Claudia yang
indah itu adalah warisan dari ibunya karena mata mereka memang mirip, sama-sama
biru dan menawan.
Valeria saat itu
sedang berada di tengah di antara kedua budak hitam. Ia nampak menaik-turunkan
tubuhnya di atas penis Kasha sementara dari belakang Pyankhi melesakkan
penisnya ke dalam anus sang nyonya majikan. Kasha menikmati genjotan Valeria
sambil dengan santai menyedoti payudara Valeria yang menggelayut. Rambut
Valeria yang masih tersanggul sudah agak kusut, butir-butir keringat membasahi
tubuh dan wajahnya membuat penampilannya makin menggairahkan.
Claudia meletakkan
tangan di mulutnya dan menahan nafas seakan tidak percaya pada pengelihatannya
sendiri. Ia tak tahu harus marah, sedih, tegang, atau malah terangsang, semua
perasaan itu bercampur menjadi satu sehingga membuatnya hanya bisa melongo
mengintip sang ibunda yang sedang berselingkuh dengan budaknya.
Akhirnya gadis itu
menyudahi pengintipannya dan berlari ke kamar, disana ia menangis sambil
tengkurap di atas ranjang. Sebagai anggota kelas elite masyarakat Roma saat
itu, ia memang sudah sering mendengar kabar mengenai kegilaan hidup kelasnya
baik di kalangan keluarga kaisar maupun kalangan senat dan bangsawan. Sudah
menjadi rahasia umum bahwa cucu Kaisar Tiberius, Gaius Germanicus (yang kelak
menjadi Kaisar Caligula) memiliki hubungan incest dengan kakak perempuannya,
sudah merupakan hal yang lumrah sebagian istri anggota senat mempunyai hubungan
gelap dengan pria-pria muda, dan bukan hal baru lagi para senat dan bangsawan
menyukai pesta-pesta pribadi yang biasa berujung pada pesta orgy. Namun yang
diketahuinya selama ini keluarganya termasuk baik-baik saja, ayahnya selalu
setia pada ibunya walaupun konon kabarnya ketika muda memiliki banyak kekasih.
Demikian pula ibunya selama ini ia anggap sebagai wanita yang penyayang dan
tulus, tipe wanita yang lebih menyukai pekerjaan rumahan dan tidak pernah
terlibat hura-hura apalagi pesta orgy seperti yang lainnya, ternyata ibunya
tidak beda dengan mereka dan ia berselingkuh dari ayahnya dengan golongan budak
pula.
Sikap Claudia
terhadap sang ibunda berubah jadi dingin beberapa hari ini. Ketika Valeria
mengajak bicara ia hanya menjawab seadanya saja dengan datar. Ia memilih lebih
sering keluar rumah, seperti pergi ke pinggiran kota yang jauh dari hiruk-pikuk
Roma atau bermain dadu bersama teman-temannya (permainan dadu merupakan salah
satu hiburan pada masa itu). Pernah ia menyampaikan keluh kesahnya sambil
berdoa di depan patung Dewi Juno (istri Dewa Jupiter), dewi pelindung para
istri yang juga merupakan simbol istri yang diselingkuhi.
Tentu saja Valeria
merasa sedih melihat perubahan sikap putri tunggalnya itu, apalagi ia tidak
tahu alasan sebenarnya. Ia sudah merasa kesepian selama setengah tahun lebih
ini. Apa sebenarnya yang merubah sifat setia Valeria? Dalam sebuah jamuan ia
mendengar cerita seorang teman sesama istri komandan pasukan militer Romawi
bercerita mengenai kehidupan seksnya yang wah. Selain pernah bercinta dengan
pria muda yang tampan ia juga bercerita pernah bercinta dengan budaknya, itu
semua hanya untuk memenuhi nafsu seksnya yang menggebu-gebu selama suaminya
tidak ada dan tidak dengan cinta. Semua tertegun mendengarnya termasuk Valeria.
Sejak saat itu, setiap kali melihat pria, terutama pria perkasa seperti budak,
tentara, atau gladiator, ia selalu membayangakan dan bertanya dalam hati,
apakah mereka begitu perkasa dan dapat membuatnya orgasme berkali-kali ?
Mulanya ia selalu berusaha menepis fantasi liar itu dengan menyibukkan diri
merajut, menonton teater, balap kuda, dan melakukan pekerjaan rumah lainya,
namun syahwatnya yang telah dahaga selama berbulan-bulan terus menggelitiknya
walau ia sering berdoa pada Dewi Juno agar tetap menjaganya dari
perselingkuhan.
Namun akhirnya
hubungan terlarang itu terjadi juga, Valeria makin terpengaruh kata-kata sang
teman bahwa seks dan cinta itu jangan disamakan. Jantungnya berdegup kencang
ketika pertama kali menyuruh kedua budaknya merangsangnya dengan menggerayangi
tubuhnya dan melakukan oral seks. Birahi yang menuntut pemuasan itu terus
mendorongnya berbuat lebih jauh hingga makin keterusan dari hari ke hari.
Bahkan Valeria tidak malu-malu lagi memanggil kedua budak itu ke kamarnya untuk
memuaskan nafsunya. Dalam urusan seks, ia makin tak memikirkan yang namanya
harga diri atau martabatnya. Kedua budak itu memang terbukti mampu membuatnya
menikmati seks sepenuhnya, apalagi sebelumnya ia belum pernah melakukannya
secara threesome seperti ini. Bagaimanpun, dari luar ia tetap nampak seperti
wanita terhormat, istri seorang jenderal dan ibu yang baik bagi putrinya .
Seminggu setelah
mendapati ibundanya berselingkuh dengan dua budak Nubianya, ia mendapat kesempatan
untuk menginterogasi mereka. Saat itu mamanya sedang berada di luar kota
memantau keadaan rumah dan tanah pertanian keluarga mereka karena saat itu
sedang musim panen anggur. Dipanggilnya Kasha dan Pyankhi menghadapnya di ruang
tamu. Keduanya menghadap menemui nona majikan mereka yang telah menunggu di
atas sebuah bangku berukir, tampak anggun sekali ia hari itu dengan gaun
panjang warna ungu, warna yang menandakan kelas elit masyarakat Romawi karena
bahan kain dengan warna itu adalah yang paling mahal. Claudia menyuruh dua
budak wanita yang mendampinginya pergi dan siapapun tidak diijinkan masuk tanpa
perintah darinya. Mata biru Claudia menatap tajam pada kedua budak hitam itu.
“Berlutut !â€
perintahnya dengan setengah membentak pada keduanya.
Keduanya dengan raut
wajah bingung dan takut menjatuhkan lutut ke atas lantai berlapis marmer itu.
Mereka tahu ada sesuatu yang tidak beres dilihat dari tatapan mata dan gaya
bicara gadis itu.
“Lancang sekali
kalian berani main gila dengan mamaku, bagaimana bisa terjadi ?†tanya Claudia
dengan ketus.
“A-a…apa maksud Nona
? kami, kami tidak mengerti ?†Kasha mencoba berkelit dengan gugup.
“Budak hina ! masih
berani bohong !†Claudia marah dan melemparkan bantal di dekatnya yang mengenai
kepala Kasha.
Mereka makin
membungkukan badan tak berani menatap wajah nona majikannya karena memang
bersalah.
Claudia terus
mendesak mereka untuk membeberkan segalanya dengan marah sehingga mereka pun
akhirnya mengakuinya.
“Kami, kami
diperintah oleh nyonya, kami juga tidak berani melawan !†ujar Pyankhi.
“Benar…itu benar,
nyonyalah yang meminta kami melakukan itu, kami cuma budak, apa yang bisa kami
perbuat selain menurut ?†timpal Kasha.
“Bohong ! kalian
bohong ! mama itu wanita terhormat, mama gak mungkin seperti itu !†sahut
Claudia setengah menjerit, hatinya sangat terpukul menerima kenyataan itu.
“Ampun nona, memang
begitu kenyataannya, coba pikirkan, mana mungkin kami berani selancang itu
kalau bukan nyonya yang memulai !†jawab Kasha lagi sambil menundukkan kepalanya
hingga hampir menyentuh lantai.
“Kami tidak berani
menolak, kami takut dihukum, mohon pengertian Nona, ini bukan salah kami !â€
Pyankhi juga terus mengiba dan menundukkan kepala.
“Sudah berapa lama
kejadian ini berlangsung ?†tanya Claudia lagi.
“Sebulan…iya
kira-kira sebulan, nyonya sering menyuruh kami melayaninya kalau sedang
kesepian†jawab Pyankhi terbata-bata.
“Iya, Nyonya
sepertinya kesepian karena tuan lama belum pulang, sepertinya itu sebabnya dia
minta kami berbuat begitu !†timpal Kasha.
“Cukup…cukup saya
bilang ! dasar budak hina !†bentak Claudia dengan nada bergetar, tangannya
terkepal keras menahan marah dan sedih, “kalian kira saya akan diam saja untuk
semua ini hah ? kalian akan tau apa hukumannya ?â€
“Ampun Nona, jangan
hukum kami, ini bukan salah kami !†mereka mengiba dan membenturkan kepalanya
ke lantai berlapis granit itu dengan penuh ketakutan.
“Baik, aku tidak akan
membunuh kalian†kata Claudia pelan yang membuat mereka sedikit tenang, “tapi
aku akan membuat kalian tidak bisa melakukan itu lagi selamanya !†lanjutnya
dengan nada tinggi.
“Ooohh…jangan Nona,
ampuni kami, kami tidak bersalah !†sekali lagi mereka mengiba-iba sambil
merangkak ke depan bermaksud menyembah dibawah kaki Claudia.
Ia bangkit berdiri
dan berjalan ke depan hendak memanggil prajurit untuk mengebiri kedua budak
itu. Dengan wajah sinis ia mengacuhkan permohonan belas kasih keduanya. Ia
melangkahkan kakinya hingga memunggungi keduanya.
“Penga…mmmhh !!â€
sebelum sempat ia berteriak memanggil prajurit yang berjaga agak jauh di luar
sana sebuah tangan kokoh sudah membekap mulutnya dari belakang.
Claudia kaget sekali
dengan sergapan mendadak itu, ia meronta sekuat-kuatnya berusaha melepaskan
diri. Sia-sia, tenaga seorang gadis sepertinya bukanlah tandingan tenaga budak
yang terbiasa melakukan kerja kasar. Pyankhi maju ke depan dan menyeringai
mengerikan. Claudia yang matanya mulai berkaca-kaca menggeleng kepala seolah
berkata, “jangan…jangan mendekat, lepaskan aku !â€
“Maaf Nona, anda
tidak memberi kami pilihan sehingga kami terpaksa melakukan ini !†katanya
sambil meraih bahu gadis itu.
‘Bret !†dengan satu
sentakkan kuat robeklah gaun itu pada sisi kanannya sehingga payudara kanannya
terekspos seketika. Mata kedua budak itu seperti mau copot melihat keindahan
payudara nona majikannya yang montok, kencang dan berputing kemerahan itu.
Sementara air mata Claudia meleleh dari pelupuk matanya membasahi pipinya, ia
tidak menyangka mereka berani melakukan hal ini padanya. Pyankhi memakai
robekan baju Claudia untuk mengikat mulutnya, dengan demikian Kasha melepaskan
bekapannya terhadap mulut Claudia dan dapat lebih erat menelikung lengannya
sehingga membuat Claudia meringis kesakitan dan menjerit, namun jeritan itu
teredam oleh sobekan baju yang mengikat mulutnya.
“Kami tahu hukumannya
walau tidak mati tapi dikebiri yang lebih kejam dari kematian itu sendiri, maka
kami lebih memilih dapat mencicipi tubuh Nona dulu sebelum dihukum, toh
kalaupun harus mati kami tidak akan menyesal karena kami sudah tidak punya
keluarga lagi†kata Kasha dekat telinganya.
Nyali Claudia kian
ciut melihat tatapan penuh nafsu mereka yang akan segera memperkosanya.
Rontaannya makin lemah apalagi semakin meronta justru semakin sakit akibat
tangannya ditelikung oleh Kasha dari belakangnya. Pyankhi yang didepannya mulai
menciumi pipi, leher dan telinganya membuatnya bergidik. Ia juga merasa roknya
diangkat sehingga angin menerpa pahanya yang mulus, sebuah tangan kasar lalu
membelai paha itu dari belakang. Belaian itu mau tidak mau membuat darahnya
berdesir.
“Hhhmm…bener-bener
toked yang montok !†kata Pyankhi meremas payudara kanan Claudia yang
tersingkap.
Sementara itu tangan
Kasha meraba makin dalam hingga menyentuh vagina Claudia yang masih tertutup
celana dalamnya. Ia mendesah tertahan saat jari-jari tangan yang besar itu
menggosok belahan kemaluannya dari luar. Pyankhi juga kini memeluk tubuhnya
sambil tangannya terus menggerayangi payudaranya. Kedua budak itu telah
mendekapnya dari depan dan belakang sehingga membuatnya merasa sesak dan dapat
merasakan bau badan mereka yang maskulin. Diperlakukan demikian, perlahan
Claudia mulai lemas, rasa nikmat pada vaginanya yang digesek-gesek dan
payudaranya yang diremasi membuatnya tak mampu berontak lagi. Ketika tangan
Kasha menyusup ke dalam celana dalamnya, rasa nikmat itu makin membuatnya tak
berdaya, tubuhnya bergetar menerima rangsangan-rangsangan itu. Meskipun kini
Kasha telah melepaskan tangannya yang tadi ditelikung, Claudia tidak berontak
seperti tadi lagi, ia hanya mendorong tanganya ke dada bidang Pyankhi yang
mendekapnya dari depan dengan setengah hati. Melihat Claudia kian takluk,
Pyankhi makin berani, ia menarik lepas simpul pada tali pinggangnya lalu
menurunkan bagian gaun yang masih menggantung di bahu kirinya sehingga gaun itu
melorot jatuh. Pakaian yang masih tersisa di tubuh gadis itu kini tinggal
celana dalamnya saja, itupun sudah setengah melorot. Mata kedua budak itu
melolot memandangi tubuh polos nona majikan mereka, sungguh putih dan mulus bak
pualam, sepasang payudaranya yang tegak begitu kenyal dan lembut seperti kulit
bayi. Valeria memang mewariskan kecantikannya itu pada putri semata wayangnya
ini.
Sentuhan-sentuhan
erotis mereka mau tak mau membuat darah Claudia bergolak. Ia merasakan seperti
ada getaran-getaran listrik ketika Pyankhi membungkuk sambil menyedoti
payudaranya, terkadang gigi budak hitam itu menggigiti kecil putingnya sehingga
meningkatkan rangsangannya.
“Mmmm…mmpphhh !â€
terdengar erangan Claudia yang teredam sobekan pakaian yang mengikat mulutnya.
Sementara di
belakangnya, Kasha sedang menciumi leher dan pipinya, tangannya yang kekar itu
mempermainkan payudara yang satunya dan tangan lainnya mengobok-obok celana
dalamnya. Kasha merasakan vagina majikannya yang ditumbuhi bulu-bulu halus itu
sudah mulai basah akibat permainan jarinya. Mereka kemudian menyeret tubuh
Claudia yang sudah pasrah dan lemas karena terangsang itu ke dipan terdekat,
tempat biasa tamu membaringkan diri ketika sedang diadakan perjamuan. Kasha
terlebih dulu naik ke dipan berlapis bantalan empuk itu lalu menaikkan tubuh
Claudia ke atasnya. Pyankhi membuka pakaiannya yang terbuat dari kain kasar.
Ketika terakhir ia membuka cawatnya, mata Claudia terbelakak melihat penis
hitam yang sudah ereksi penuh itu. Badan budak hitam itu begitu kekar dan
berotot seperti patung-patung Romawi yang menghiasi beberapa sudut ruangan itu,
tapi yang lebih membuatnya terhenyak adalah penisnya yang kali ini dilihatnya
dengan lebih jelas, ukurannya begitu besar dengan urat-uratnya yang menonjol
seperti akar pohon. Mengerikan tapi juga membakar libidonya, pantas saja
mamanya mendesah demikian nikmat dibuatnya.
Setelah membuka
pakaiannya ia menghampiri Claudia dan menarik lepas celana dalam gadis itu.
Claudia sudah pasrah sehingga tanpa sadar bergerak secara refleks mempermudah
budak itu meloloskan pakaian terakhirnya yang tersisa.
“Demi para dewa !
sungguh anugerah yang tak ternilai bisa menikmati yang seperti ini !†Pyankhi
berdecak kagum mengagumi kepolosan tubuh Claudia.
“Walau harus mati
setelah ini kami tak menyesal, sungguh maaf sekali Nona, kami sudah terlalu
lancang†kata Kasha, “tapi kami tidak punya pilihan lainâ€
Pyankhi ikut naik ke
dipan dan berlutut di antara kedua paha Claudia, ia lalu membungkuk dan
mengarahkan wajahnya ke vagina gadis itu. Kasha yang lebih muda sepertinya
mengerti sehingga ia menarik tangannya membiarkan Pyankhi mencicipi vagina
Claudia. Pyankhi tertawa-tawa mengelusi paha mulus Claudia sambil sesekali
menjilatinya. Pipi Claudia bersemu merah karena terangsang dan malu organ
kewanitaannya dipelototi demikian, ia berusaha merapatkan pahanya tapi tidak
bisa karena dipegangi oleh budak itu. Nafas pria itu yang mendengus-dengus
makin terasa membelai vaginanya.
“Eemmhh !†desahan
tertahan keluar dari mulutnya ketika lidah Pyankhi menyentuh bibir vaginanya.
Lidah budak hitam itu
menjilati bibir vaginanya dan semenit kemudian menyusup masuk ke dalamnya untuk
mencicipi lebih jauh. Tentu dengan rangsangan itu tubuh Claudia yang sedang
didekap Kasha menggeliat liar.
Claudia makin diamuk
birahi, ia sudah memasrahkan dirinya pada kedua budak hitamnya itu. Tangannya
mendorong-dorong kepala Pyankhi yang sedang asyik melumat vaginanya, namun itu
bukanlah penolakan melainkan hanya melampiaskan kegelian nikmat yang diberikan
Pyankhi, ia juga tidak berusaha mengatupkan paha walaupun pria itu sudah tidak
memeganginya lagi. Yakin Claudia sudah takluk, Kasha memberanikan diri membuka
ikatan mulut gadis itu. Sebenarnya saat itu bisa saja ia menjerit sekuat tenaga
dan kabur, tapi entah mengapa ia enggan melakukannya, birahi telah
menghanyutkannya ke tengah lautan nafsu sehingga untuk kembali tidak semudah
itu. Selain itu kekecewaannya yang mendalam pada mamanya juga membawanya pada
penyerahan diri, ia merasa kehilangan panutan dari orang tua yang selama ini
dihormatinya sehingga tidak perlu lagi mempertahankan harga diri dan
derajatnya, ia ingin melampiaskan kekesalannya dengan perbuatan yang sama
dengan mamanya itu. Lagipula toh kegilaan seperti ini juga berlangsung di
istana, pusat pemerintahan itu. Memang Kaisar Octavianus Agustus (63 SM-14 M),
pendahulu dan ayah tiri Tiberius telah menetapkan undang-undang yang mengatur
tentang kesusilaan dan ia juga memberi contoh dari keluarganya sendiri dengan
mengasingkan putrinya, Julia, yang terlibat sejumlah skandal seks. Namun toh
undang-undang itu hanya menyentuh rakyat jelata saja, sedangkan kebanyakan
golongan atas masih tetap hidup dalam kebejatan moral.
Remasan pada kedua
payudaranya dan lidah Pyankhi yang mengais-ngais liang vaginanya membuat libido
Claudia semakin naik.
“Aahh…oohh…jangan,
lepaskan saya mmmhh…aaahh !†desah gadis itu, mulutnya berkata jangan karena
masih malu mengakui dirinya terbuai, namun tubuh dan hati kecilnya menginginkan
semua itu berlanjut.
“Nona sekarang nikmati
saja, setelah ini terserah anda kami mau diapakan†kata Kasha dekat telinganya.
Claudia dapat
merasakan penis Kasha yang sudah mengeras itu menekan punggungnya, tangannya
dari tadi meremas payudara sambil sesekali menjelajah lekuk tubuh lainnya. Bibir
tebal pria itu menciumi pundak dan lehernya yang jenjang. Terkadang lidahnya
bermain di telinga gadis itu membuatnya kegelian dan makin terbuai. Sementara
di bawah sana, Pyankhi semakin liar menjilati vaginanya, ia menemukan
klitorisnya dan memainkan lidahnya di area sensitif itu sehingga Claudia
semakin tak sanggup menahan diri lagi. Tak lama kemudian ia merasakan tubuhnya
menegang tak terkendali dan ia tak bisa menahan cairan yang keluar dari
vaginanya yang langsung dihisap dengan bernafsu oleh Pyankhi. Perasaan nikmat
itu berlangsung hingga beberapa detik lamanya sebelum tubuhnya lemas, nafasnya
tersenggal-senggal, ia tak bisa menyangkal bahwa ia sangat menikmati orgasme
pertamanya tadi, ia bingung apakah harus marah pada mereka yang berani
selancang ini terhadapnya atau harus berterima kasih karena memberinya
pengalaman sensasional ini. Ia sungguh bingung hingga tak sanggup berkata
apapun selain menatap Pyankhi yang sedang menjilati sisa-sisa cairan orgasmenya
dengan tatapan sendu, seolah ia ingin memintanya lagi tapi tidak berani
mengutarakannya terang-terangan.
“Hhmm…sedap, terima
kasih Nona, hamba yang hina ini akhirnya bisa merasakan memek terbaik di Romaâ€
kata Pyankhi setelah puas menjilati vagina Claudia.
“Tolong jangan kasar,
saya baru pertama kali†sahut Claudia.
Kasha menyuruh
Claudia bergeser dikit lalu ia turun dari pembaringan itu untuk melepas
pakaiannya. Sekali lagi Claudia terhenyak ketika melihat penis Kasha, ukurannya
mirip dengan temannya itu dan sama-sama hitam berurat. Oh…gila besar sekali,
inikah yang akan segera menjebol vaginaku ? kata Claudia dalam hati sambil
menatap takjub. Sebaliknya mereka pun memandangi tubuh nona majikan mereka yang
hanya tinggal memakai beberapa asesoris saja seperti tiara yang masih terpasang
di atas kepalanya, seuntai kalung emas, dan gelang bersepuh emas yang
melingkari lengan atas kirinya. Pyankhi meraih lengan Claudia yang masih
bengong sambil duduk bersimpuh dan meletakkannya di penisnya.
“Coba Nona genggam
punya saya ini, gerakkan tangan Nona naik turun supaya enak†katanya seperti
sedang mengajari.
Claudia meskipun
masih ragu mulai mengikuti pengarahan budaknya, ia mengocok pelan benda itu. Ia
merasakan kerasnya benda itu dan urat-urat yang menonjol itu. Pyankhi mendesis
nikmat menikmati kelembutan tangan Claudia yang memijati penisnya. Kasha
kembali naik ke pembaringan ia mengambil tempat di sisi nona majikannya.
Diraihnya dagu gadis itu seraya mendekatkan wajahnya. Bibir mungil Claudia pun
bertemu dengan bibirnya yang tebal. Claudia membiarkan lidah budak itu masuk ke
mulutnya serta menyapu rongga di dalamnya. Mulanya ia pasif saja, namun
lama-lama lidahnya pun mulai ikut bermain dengan lidah pria itu.
Seiring ciumannya
yang makin panas, kocokannya terhadap penis Pyankhi pun makin cepat sehingga budak
itu mengerang keenakan dibuatnya. Pyankhi yang tidak tahan lagi melepaskan
kocokan Claudia pada penisnya, lalu ia menarik kedua pergelangan kaki Claudia
dan dibentangkannya. Vaginanya yang merekah dan basah itu terlihat jelas
olehnya. Kemudian budak itu menempelkan kepala penisnya ke liang itu.
“Aahhh…aduh,
pelan-pelan, saya…ahhh…saya belum pernah !†Claudia merintih menahan perih,
tubuhnya mengejang dan air mata keluar dari pelupuk matanya, ia mencengkram
erat tangan Kasha yang sedang memijati payudaranya.
Pyankhi tampaknya
cukup pengertian, walau nafsunya sudah di ubun-ubun, ia tidak terlalu kasar
memperlakukan nona majikannya ini. Agar tidak terlalu sakit, dengan sabar ia
melakukan gerakan tarik dorong hingga penisnya sedikit demi sedikit tertancap
makin dalam. Kepala penis itu menyentuh suatu lapisan dan terus menekan dan…
“Aakkhh !†Claudia
mendesah lebih panjang dan tubuhnya menggelinjang, rupanya Pyankhi baru saja
merobek selaput daranya.
Kasha kembali melumat
bibir Claudia dan memain-mainkan putingnya sehingga disamping rasa sakit pada
vaginanya, gadis itu juga merasakan kenikmatan yang lembut sehingga gairahnya
tidak padam oleh rasa nyeri. Mengikuti naluri seksualnya, Claudia membalas pagutan
Kasha, ia melingkarkan tangan kanannya melingkari leher budak itu. Sementara
Pyankhi makin memperdalam tusukannya dan mulai menggenjotnya. Claudia dapat
merasakan batang itu berdenyut-denyut dalam vaginanya, urat-uratnya juga terasa
sekali bergesekan dengan dinding vaginanya.
“Demi Venus, inikah
rasanya bercinta ?!†katanya dalam hati.
Claudia mengerang dan
menggeliat merasakan sodokan penis hitam Pyankhi. Budak hitam itupun merasakan
betapa nikmat penisnya keluar masuk di antara himpitan vagina nona majikannya
yang masih sempit dan baru diperawaninya itu. Ketika sedang enak-enaknya
menikmati genjotan Pyankhi, tiba-tiba Kasha memutar wajahnya ke samping dimana
penisnya telah menodong tepat di wajahnya.
“Tolong Nona jilat
punya saya ini, saya ingin merasakannya di mulut Nona !†pintanya.
Claudia yang sedang
dilanda nafsu itu tanpa ragu-ragu menggenggam penis itu dan membuka mulut
membiarkan penis itu masuk ke dalamnya.
“Uuuhh…enak Nona,
dikulum, iyah gitu, jangan kena giginya…mmm !†erang Kasha sambil sesekali
memberi pengarahan.
Claudia mengulum
penis itu, walau aromanya tidak enak, tapi dalam kondisi high seperti itu ia
tidak terlalu memikirkannya, bahkan mulai terbiasa. Penis itu begitu besar dan
panjang sampai mulut Claudia yang mungil tak mampu menampung seluruhnya dan
itupun sudah terasa sesak. Ia memaju-mundurkan kepalanya mengisapi penis itu,
erangan tertahan terdengar dari mulutnya. Seiring dengan kenikmatan yang
memuncak, Pyankhi semakin cepat menyodok-nyodokan penisnya sehingga tubuh Claudia
terguncang-guncang. Budak hitam itu menggenjot sambil tangannya meremasi
payudara gadis itu yang ikut bergoyang. Claudia tampak menggeliat keenakan
sambil mengulum penis Kasha dengan nikmatnya. Oral seks ini adalah yang pertama
baginya, tapi nampaknya dia sudah begitu ahli menjilati dan mengisap benda itu
sampai pemiliknya melenguh nikmat. Itu dikarenakan sensasi nikmat yang
menjalari tubuh Claudia yang menuntut pemuasan sehingga dengan sendirinya
tubuhnya bereasi membalas kenikmatan yang diberikan kedua budaknya.
Tak lama kemudian
Claudia mencapai klimaksnya bersamaan dengan Pyankhi. Claudia melepaskan
kulumannya pada penis Kasha karena tidak tahan menahan desah orgasmenya. Di
ambang orgasme Pyankhi makin ganas menggenjoti Claudia, demikian pula Claudia yang
ikut menggoyang pinggulnya untuk menyambut gelombang orgasme yang segera
menerpa. Keduanya akhirnya mengeluarkan desahan panjang ketika tiba di
puncak.Claudia merasakan ada cairan hangat yang banyak sekali tertumpah di
dalam vaginanya, Pyankhi juga merasakan penisnya makin diremas-remas dan
diselubungi cairan yang hangat. Tubuh Claudia melemas kembali setelah mengejang
selama beberapa saat, nafasnya terputus-putus dan keringat mulai membasahi
tubuh keduanya. Claudia menatap kosong ke langit-langit ruangan itu.
“Luar biasa, aku
tidak bisa menahannya, perasaan apakah tadi itu ?†tanyanya pada diri sendiri
dalam hati.
Secara jujur Claudia
sangat menikmati sensasi bagaikan terbang tadi, yang kali ini rasanya jauh
lebih nikmat dari yang pertama tadi, terutama karena semburan cairan hangat di
dalam itu, ia masih ingin melanjutkan kenikmatan itu, tapi sekali lagi hatinya
bergumul apakah pantas kenikmatan ini didapatnya dari golongan budak seperti
mereka, padahal sebentar lagi ia akan segera menikah dengan Vitelius, perwira
muda yang gagah itu. Ooohh…sungguh bingung ia dibuatnya, namun ketika teringat
lagi kelakuan mamanya itu, sisi liarnya mulai timbul lagi dengan maksud
melampiaskan kekecewaan hatinya. Ia mulai berpikir toh orang-orang lain
termasuk mamanya juga pernah melakukan kegilaan ini, kalau sudah telanjur basah
begini untuk apa lagi sok suci.
Setelah tenaganya
dirasa cukup, Claudiapun pelan-pelan mengangkat tubuhnya hingga terduduk di
pembaringan itu dengan kaki lurus. Matanya menatap pada Kasha yang sedang
menunggu gilirannya, ia melingkarkan tangannya ke leher budak itu dan wajahnya
maju mencium bibir tebalnya. Tanpa melepas ciuman, Kasha menarik kaki Claudia
dan membimbingnya naik ke pangkuannya.
“Uuhhh…nngghh !â€
desah Claudia ketika penis Kasha melesak makin dalam di vaginanya.
Sesak sekali penis
itu dalam vaginanya yang sempit, berkat cairan kewanitaan yang telah membanjiri
selangkangannya, ia tidak merasa seperih waktu diperawani Pyankhi tadi dan
sekarang ini nikmatnya lebih terasa. Claudia menggeliat nikmat dan mendesah
ketika Kasha menyentak pinggulnya ke atas sehingga penis itu masuk sepenuhnya
ke dalam vaginanya. Keduanya mulai bergoyang pelan sambil berpelukan. Kasha
sedang mengenyoti puting kanan Claudia dan tangannya membelai punggungnya yang
mulus. Desahan-desahan nikmat keluar dari mulut gadis itu tanpa tertahan,
naluri seksualnya telah mengaburkan akal sehatnya. Kini bahkan goyangannya
lebih agresif dari Kasha sehingga Kasha menghentikan sentakan pinggulnya
membiarkan nona majikannya naik turun sendiri mencari kenikmatannya.
“Enak sekali Nona,
memek Nona benar-benar sempit, lebih sempit dari punya Nyonya, uuhhh…walau saya
mati setelah ini saya rela uuhh !†kata Kasha
Claudia tidak
menghiraukan celoteh Kasha selain terus menggoyang tubuhnya, sesekali mereka
mulut mereka saling berpagutan. Pyankhi yang sedang beristirahat memandangi
temannya sedang menggumuli nona majikannya sambil memijati penisnya, seringai
puas muncul di wajahnya.
Buah dada Claudia
yang sejak tadi menjadi bulan-bulanan kini sudah basah oleh liur, beberapa
bekas gigitan yang memerah juga nampak pada kulitnya yang putih. ‘Helm’ penis
Kasha bagaikan palu godam yang menghantam dan menghancurkan lubang sempit pada
bibir vaginanya.
“Ohhh…yahh…terushh…aahh…nikmat…!â€
Claudia terus menceracau.
Kasha yang semakin
terbawa arus kenikmatan juga kini ikut menyentak-nyentak pinggulnya sehingga
pembaringan itu ikut bergetar. Ketika mengayunkan pinggulnya otot-otot kekar
pada lengan budak hitam itu keluar dan menampakkan keperkasaan tubuhnya, wajah
budak hitam itu juga telah basah oleh keringat dan minyak wajah. Kasha dalam
usianya yang ke 27 memang sedang dalam puncak kekuatannya.
“Oh seksi sekali !â€
kata Claudia dalam hati memandang padanya.
Kasha masih belum
menunjukkan kelelahan. Mulut, lidah, tangan dan pinggulnya semuanya aktif
memberi rangsangan pada gadis itu. Sekitar lima belas menitan akhirnya
pertahanan Claudia kembali jebol. Tubuhnya menggeliat hebat sehingga sepasang
payudaranya semakin membusung indah di depan wajah Kasha. Vaginanya kembali
banjir dan menimbulkan suara decakan setiap kemaluan mereka bertumbukan. Namun
Kasha masih terus bersemangat menyentak-nyentak tubuh Claudia yang sudah lemas.
Ia membiarkan tubuh Claudia yang telah lemas itu ambruk ke belakang, setelah
sedikit merubah posisi menjadi berlutut ia lalu sambil meneruskan genjotannya
pada gadis yang sudah terbaring lemas itu sambil memegangi kedua pahanya yang
tertekuk.
Tak lama kemudian Kasha
membalik tubuh Claudia hingga menungging dan kembali menusukkan penisnya.
Claudia yang masih kelelahan pasrah saja diperlakukan apapun oleh budaknya itu.
Ketika tengah digenjoti oleh Kasha tiba-tiba sebuah tangan mengangkat kepalanya
yang tertunduk lemas. Ia menggerakkan mata dan melihat Pyankhi telah berlutut
di depannya dengan penis yang sudah tegak lagi menodong ke arah wajahnya.
“Isep Nona…ayo diisep
!†perintahnya.
Claudia menggeleng
karena masih lelah, tapi Pyankhi terus mendesaknya.
“Ayolah Nona, saya
udah gak tahan, isep aja, saya mau Nona melayani kontol saya ini, saya mau
muncrat di mulut Nona, nanti Nona minum peju saya yah !†katanya sambil menahan
kepala gadis itu dan tangan satunya menempelkan penis itu ke bibirnya.
Gila lancang benar budak
ini berani-beraninya memerintah seperti itu padanya, Claudia merasa seperti
diinjak-injak harga dirinya oleh perintah Pyankhi. Namun herannya kata-kata
melecehkan itu sepertinya mendatangkan sensasi tersendiri seperti sihir yang
meluluhkannya, Claudia benar-benar takluk oleh budaknya sendiri. Ditambah
genjotan Kasha dibelakangnya, birahi Claudia mulai menggeliat lagi, ia membuka
mulutnya membiarkan penis itu masuk ke mulutnya, hidungnya menghirup aroma
sperma dan keringat dari kejantanan itu dan lidahnnya mulai merasakan asin
ketika menyentuh ujung batang itu. Kini ia harus melayani dua penis sekaligus
pada vagina dan mulutnya, ia tidak pernah membayangkan akan melakukan permainan
seks seliar ini dalam pengalaman pertamanya. Betapapun campur-aduknya perasaan
Claudia yang jelas saat itu ia sangat menikmati disetubuhi dari dua sisi
seperti itu.
Ketika Kasha menyodok
ke depan penis Pyankhi semakin masuk ke mulutnya dan kadang menyentuh
tenggorokannya, hal ini membuat budak Nubia itu makin mengerang keenakan.
Erangan tertahan keluar dari mulutnya yang terganjal penis besar itu. Kasha
sepertinya akan segera mencapai orgasme, ia semakin cepat menggenjoti Claudia
dan semakin kasar meremas payudaranya. Kemudian ia menarik lepas penisnya dan
membawanya ke mulut Claudia.
“Tolong isep yang ini
dulu Nona, mau keluar !†pintanya terengah-engah.
Claudia menurut saja
ketika Kasha menarik kepalanya dan memasukkan penis itu ke mulutnya, ia tetap
melayani Pyankhi dengan kocokan tangannya. Ia merasakan aroma cairan kewanitaannya
sendiri yang membasahi penis itu. Tidak sampai semenit muncratlah sperma Kasha
di mulutnya diiringi erangan panjang si budak hitam itu. Claudia agak kaget
menerima semburan itu, baru pertama kali ia merasakan cairan hangat yang kental
itu dalam mulutnya, ternyata aromanya lumayan tajam. Cairan itu muncrat begitu
deras dan Claudia belum ahli menghisap cairan itu sehingga meleleh-leleh di
pinggir mulutnya, bahkan sebagian muncrat membasahi wajahnya ketika ia
melepaskannya dari mulut karena merasa mulutnya kepenuhan.
“Diminum yah Nona !â€
kata Kasha sambil menyeka lelehan spermanya pada dagu Claudia dan memasukkannya
ke mulut gadis itu.
Tak lama kemudian
penis Pyankhi yang sedang dikocok Claudia juga menyemprotkan sperma mengenai
pipi kanannya. Entah mengapa walau awalnya sempat merasa jijik dengan cairah
kental itu, ia malah membuka mulutnya dan memasukkan penis Pyankhi ke mulutnya.
Ia menyedot-nyedot penis Pyankhi yang masih mengucurkan spermanya, sementara
tangannya mengocok milik Kasha yang semakin menyusut.
“Itu yang namanya
sperma, Nona, itu yang bisa membuat hamil kalau masuk ke rahim ?†Pyankhi
menjelaskan.
“Hamil ?†tiba-tiba
Claudia terkesiap dan kesadarannya sedikit pulih, ia tidak rela hamil dari dari
budak Nubia seperti mereka, sejauh inikah nafsu telah menyeretnya sampai ia
begitu menikmati dan lupa akibatnya. “hamil katamu ? jadi aku akan hamil karena
ini ?†tanyanya dengan wajah kuatir.
“Tergantung Nona,
apakah sekarang Nona sedang dalam masa subur ? kalau ya kemungkinan besar ya,
kalau tidak Nona akan aman†Pyankhi melanjutkan penjelasannya.
“Aku baru selesai
datang bulan empat hari yang lalu, apakah aku akan hamil ?†tanya dengan
antusias.
“Kalau begitu Nona
aman, selama cairan ini tidak keluar di dalam pada masa subur Nona tidak perlu
kuatir semua itu†Kasha menjawab.
Lega hati Claudia
mendengarnya, ia lalu bertanya lagi bagaimana bila cairan itu tertelan.
“Ditelan juga tidak
apa-apa Nona, tidak akan hamil†jawab Pyankhi.
Claudia pun
melanjutkan hisapannya pada kedua penis itu hingga bersih Kedua budak hitam itu
sangat puas dan terkulai lemas di pembaringan itu. Claudia terbaring tak
berdaya di tengah, buah dadanya naik turun, sperma membasahi sekujur dada dan
wajahnya.
Dengan jarinya
Claudia menyeka sperma di wajah dan dadannya. Nafasnya berangsur-angsur mulai
tenang dan teratur lagi.
“Kalian benar-benar
kurang ajar !†ucapnya memecah keheningan dengan geram, “kalian telah lancang
berzinah dengan istri jenderal dan bahkan memperkosa putrinya. Ini kesalahan
yang besar tau !†lanjutnya sambil menggeser tubuh hingga bersandar ke kepala
pembaringan.
Mereka tertunduk lesu
mendengar omelan Claudia, mereka sadar saatnya telah tiba untuk menerima
hukuman atas perbuatan mereka.
“Kami memang salah
Nona, sekarang silakan Nona panggil pengawal, kami sudah siap kehilangan nyawaâ€
Kasha berkata dengan lesu.
Claudia menghela
nafas dan menatapi mereka bergantian dengan kesal. Dia sungguh bingung, ada
rasa senang dapat melampiaskan kekecewaan hatinya dan karena kenikmatan pertama
yang didapatnya dari mereka, namun rasa malu, kesal, dan dilecehkan pun juga
dirasakannya.
“Kalian…kalian,
tsk…cepat pergi !†ucapnya dengan berat, “pastikan jangan sampai ada yang tahu
kejadian ini termasuk mamakuâ€
Kasha dan Pyankhi
bengong dan saling pandang satu sama lain, Claudia memalingkan muka tidak mau
melihat mereka karena rasa malunya.
“Nona…maksud Nona…â€
tanya Pyankhi masih belum jelas.
“Pergi !! aku bilang
pergi !†Claudia setengah menjerit.
Kedua budak Nubia
itupun buru-buru memungut pakaian masing-masing dan memakainya. Mereka pamitan
lalu meninggalkannya sendirian di ruang tamu itu, lega hati mereka karena
Claudia ternyata tidak jadi menghukum mereka. Claudia pun dengan hati bimbang
memakai kembali pakaiannya yang telah robek sebagian. Robekan itu ia tutupi
dengan kain luar longgar seperti selendang yang disebut ‘palla’ sambil berjalan
secepatnya ke kamar untuk berganti pakaian. Untuk menuju ke kamarnya saja ia
harus memutar ke koridor yang lebih sepi agar tidak berpapasan dengan budak
yang sedang bekerja atau prajurit yang sedang patroli, ia tidak ingin mereka
curiga melihat penampilannya yang agak kusut dan pemakaian ‘palla’nya yang agak
aneh. Setelah mengganti bajunya, ia langsung menuju ke tempat pemandian yang
terletak di bagian belakang kompleks rumah dinas itu. Sesampainya disana ia
membuka pakaiannya dan turun ke dalam kolam untuk membersihkan diri. Hening
sekali suasana di kamar mandi besar itu, yang terdengar hanya percikan air dari
pancuran berbentuk kepala singa yang menghadap pintu masuk dan di seberangnya
yang membelakangi pintu. Dua buah patung berdiri tegak di kedua sisi kolam yang
saling berseberangan di antara beberapa pilar yang menyangga bangunan itu.
Tidak banyak rumah-rumah di Roma yang memiliki tempat pemandian seperti ini,
hanya rumah-rumah golongan elite saja yang memiliki kamar mandi pribadi, sedangkan
rakyat jelata biasa mandi di tempat pemandian umum atau di sungai. Di kolam itu
Claudia merendam dirinya sampai sebatas leher sambil memejamkan mata dan
merenungkan kejadian barusan.
Lima hari berlalu
setelah kejadian itu, selama itu Claudia menghindari Kasha dan Pyankhi, ia
belum ke tempat pemondokan budak beberapa hari terakhir, padahal selama mamanya
masih di luar kota ia seharusnya menginspeksi mereka di belakang, namun tugas
itu hanya ia serahkan pada perwira paling senior yang menjaga rumahnya. Valeria
telah kembali ke rumah dua hari yang lalu, namun kelihatannya sikap putrinya
padanya masih saja dingin, ia selalu berkelit dan mencari-cari alasan ketika
Valeria ingin berbicara secara pribadi padanya.
“Claudia, kamu ini
kenapa ? belakangan ini kamu selalu bersikap dingin ke mama. Mama jadi
khawatir†kata Valeria membelai rambutnya dengan lembut ketika membangunkanya
di pagi hari. “kamu ada masalah dengan teman kamu ? atau ada orang yang
mengecewakan kamu ?â€
“Sudahlah Ma, saya
sudah besar, jangan perlakukan saya seperti anak-anak terus !†jawabnya agak
ketus sambil turun dari ranjang lalu menuju ke baskom air dan membasuh
wajahnya.
Dengan hati gundah,
Valeria masih mengatakan bahwa ia sudah mempersiapkan makanan untuk putrinya
itu di ruang makan dengan menu buah-buahan dan keju segar yang dibawa dari
kampung. Namun Claudia tidak terlalu menghiraukannya, ia hanya mengucapkan
terima kasih dengan tawar dan keluar dari kamarnya meninggalkan Valeria yang
menghela nafas panjang dan geleng-geleng kepala.
Hari itu Claudia
sengaja keluar rumah lagi dan kembali pada sore harinya. Baru saja masuk rumah,
ia berpapasan dengan Lidia, budak Yunani berusia 26 tahun, yang biasa
mendampingi mamanya. Claudia bertanya pada Lidia yang sepertinya baru saja mau
pulang ke pemondokan mengenai keberadaan mamanya.
“Nyonya…tadi dia
bilang mau mandi sepertinya sekarang sudah di pemandian, tapi saya disuruhnya
pulang saja karena sudah tidak ada yang bisa dilakukan lagi†jawab Lidia sopan,
Claudia mangut-mangut mendengarnya, “eemm…kalau tidak ada apa-apa lagi saya
permisi dulu Nona, saya masih harus mengurus anak saya†Lidia memohon pamit dan
Claudia mempersilakannya pulang.
Claudia merasa ada
yang tidak beres, firasatnya mengatakan perselingkuhan itu sedang terulang lagi
karena Lidia biasa pulang agak malam dan seringkali ia membantu mamanya
menggosok punggung bila sedang mandi. Buru-buru ia menuju ke tempat pemandian
untuk memastikan dugaannya, semakin dekat ke tempat itu langkahnya semakin
berat dan detak jantungnya makin kencang. Sekitar semeter dari gerbang
pemandian yang ditutup itu sekonyong-konyong terdengar suara desahan dari
dalam. Ia mengintip dari celah antara dua gerbang itu, ia menelan ludah, kesal
sekaligus terangsang melihat mamanya sedang telanjang di dalam kolam bersama
kedua budak Nubia itu. Di air yang merendam sebatas dada mereka Kasha sedang
memeluk Valeria dari belakang sambil menggenjotnya, sementara Pyankhi sedang
mengenyoti dan meremas payudaranya. Valeria nampak menikmati sekali perlakuan
keduanya, sesekali ia mengangkat wajah Pyankhi dan berciuman dengannnya.
Claudia mendorong
gerbang bagian kiri itu hingga terbuka, ia menyeruak masuk dengan tiba-tiba
sehingga membuat mamanya dan kedua budak Nubia itu terkejut.
“Gak usah berkelit
lagi Ma, saya sudah tau semuanya dari dua minggu lalu !†kata Claudia sambil
menatap tajam pada mamanya yang refleks menutupi dada dengan tangan.
Valeria tidak bisa
mengeluarkan kata-kata apapun selain terperangah dengan wajah memerah., tidak
ada apapun yang bisa diperbuatnya karena telah tertangkap basah.
“Kenapa diam ? Mama
kaget atau merasa bersalah ? bukannya semua orang juga pernah begini Ma, bahkan
di istana kaisar juga ? untuk apa lagi ditutup-tutupi ?†suara Claudia meninggi
dan bergetar, “dan asal mama tau juga, saya pun pernah melakukannya !â€
tandasnya.
“Claudia…kamu…apa
kamu bilang ?†tanya Valeria dengan gagap dan tak percaya.
“Kenapa harus begitu
kaget Ma? saya sudah besar, apa Mama masih berpikir saya masih hijau soal urusan
begituan ?†Claudia berkata dengan sinis, “justru Mama lah yang terlalu naïf,
Mama bahkan tidak tahu kalau dua budak yang sedang bersama Mama itu juga pernah
melakukannya bersama sayaâ€
Valeria makin
terkejut, kata-kata Claudia yang terakhir itu bagaikan melempar pisau
berikutnya ke dadanya yang baru saja tertancap pisau. Ia menatap Pyankhi yang
di depannya dengan mata melotot. Pyankhi hanya bisa tertunduk tidak berani
menatap mata sang nyonya besar. Belum habis rasa terkejutnya, Claudia sudah
memeloroti gaunnya dari kedua bahu hingga gaun itu jatuh ke lantai dan
memperlihatkan kemolekan tubuhnya yang tinggal tertutup celana dalam, lalu ia
membungkuk untuk melepaskan celana dalamnya dan melemparnya ke belakang.
Setelah tubuhnya
polos, Claudia melangkah turun ke kolam dan mendekati mereka.
“Claudia, mau apa
kamu ?†tanya Valeria.
“Saya hanya mau
meramaikan acara ini saja Ma, kenapa Mama begitu khawatir? Pyankhi sayang,
ayo!†katanya seraya meraih lengan kekar Pyankhi, diletakkannya telapak tangan
budak itu pada payudaranya.
Pyankhi meremas
payudara itu dengan lembut, tangan satunya mengelus pipi mulus gadis itu, wajah
mereka saling mendekat hingga bibir keduanya bertemu dan berpagutan dengan
panas.
“Pyankhi…Claudia…hentikan
itu, aahh…lepaskan, lepaskan aku Kasha !†kata Valeria sambil meronta ingin
melepaskan diri dari pelukan Kasha.
Namun Kasha yang
melihat situasi mulai memanas lagi memeluk erat Valeria dan meneruskan
genjotannya.
“Kasha…aahh…lepaskan…aahh…aahh
!†desah Valeria menahan nikmat dari gesekan penis besar budak hitam itu dengan
dinding vaginanya.
Disetubuhi sambil
melihat putrinya bercumbu dan digerayangi budaknya, birahi Valeria kembali
membara bercampur dengan penyesalan dan rasa bersalah karena telah menyebabkan
anaknya ikut terjerumus.
“Maaf Ma, bukankah
Mama bilang seorang anak harus mencontoh orang tuanya, jadi yang saya lakukan
ini hanya mengikuti teladan yang Mama berikan, mmhh !†kata Claudia lagi ketika
mulut Pyankhi turun menjilati leher jenjangnya.
Valeria semakin tidak
bisa apa-apa lagi mendengar perkataan itu, toh dia juga yang awalnya menyulut
api yang kini telah membesar sehingga jilatannya mengenai putrinya.
“Tidak perlu merasa
bersalah Ma, Mama tidak salah, semua orang juga kan melakukan kegilaan seperti
ini termasuk Kaisar, lagipula saya juga menikmatinya kok†lanjut Claudia.
Claudia lalu mengajak
Pyankhi ke tempat yang lebih dangkal yang hanya merendam sebatas lutut. Disana
ia berlutut dan jari-jari lentiknya menggenggam penis hitam itu. Lidahnya mulai
menjilati benda itu mulai dari pelirnya lalu terus naik hingga ke kepala penis.
Jilatan dan kocokan tangannya membuat budak hitam itu melenguh nikmat. Sambil
menjilat, Claudia menggerakkan bola matanya melihat ke arah mamanya yang
menatapnya dengan mata sendu, ia juga sedang menikmati sodokan-sodokan Kasha
sehingga pasrah saja. Kemudian ia membuka lebar-lebar mulutnya dan memasukkan
penis itu ke dalamnya.
“Uuhhh…enak sekali
Nona, yahhh…gitu terusshh !†erang Pyankhi sambil memegangi kepala nona
majikannya.
Claudia menyedoti
penis itu dengan kuat sambil tangannya memijati pelirnya, hal itu membuat
Pyankhi merem-melek menikmatinya. Sepintas ada rasa malu dalam hati Valeria
karena melakukan perbuatan mesum di depan putrinya yang juga ikut dalam kegilaan
ini. Namun seiring sodokan Kasha yang makin cepat, nafsunya makin melonjak dan
ia merasakan orgasmenya sudah kian dekat. Sensasi kenikmatan itu pun membuatnya
makin terhanyut, ia melingkarkan tangannya ke belakang memeluk leher budak itu,
bibir mereka bertemu dan berpagutan, air di sekeliling mereka semakin beriak
karena goncangan tubuh yang makin dahsyat. Ibu dan anak itu telah terbuai dalam
kenikmatan terlarang.
Sudah sekitar sepuluh
menit Claudia mengoral penis Pyankhi, tapi benda itu masih kokoh tanpa
menunjukkan tanda-tanda akan orgasme walaupun pemiliknya terus mengerang dan
kadang menyodokkan penis itu hingga menyentuh tenggorokannya. Claudia pun
melepaskan kulumannya karena mulut dan lidahnya sudah terasa pegal dijelali
penis besar itu. Kemudian ia memutar badan dan bertumpu pada kedua lutut dan
telapak tangan menghadapkan pantatnya ke arah budak itu.
“Ayo Pyankhi, entot
aku sepuasmu, tunjukkan padaku keperkasaanmu !†pintanya tanpa malu-malu walau
di depan ibunya.
“Oooh…mmhh…mmm !â€
lenguh Claudia ketika penis itu membelah bibir vaginanya.
Penis itu akhirnya
masuk seluruhnya dan membuat vagina Claudia yang masih sempit itu terasa sesak.
Pyankhi dengan ganas mengocok penisnya di dalam vagina Claudia, tangannya yang
kasar itu menggerayangi payudara dan pantat gadis itu. Mulut sang budak
mengeluarkan erangan nikmat merasakan himpitan vagina itu. Ditariknya kedua
lengan gadis itu ke belakang sehingga ia menungging hanya dengan bertumpu pada
kedua lutut. Kedua payudara Claudia yang montok itu tergantung bebas dan
berayun-ayun mengikuti goyangan badannya.
“Akh…aahh…terushh…enak…aahh!â€
erang Claudia seolah ingin memperlihatkan pada ibunya bahwa ia juga bisa main
gila dan kegilaan seperti ini bukan hanya terjadi di Capri, vila tempat Kaisar
Tiberius biasa melampiaskan nafsunya, juga bukan hanya di rumah para senat dan
bangsawan.
Saat itu Valeria
menggeliat dan melepaskan lenguhan panjang, rupanya ia telah dilanda orgasme
yang dahsyat. Tubuhnya tersentak-sentak dalam dekapan Kasha sampai penis itu
terdorong lepas. Kasha membalik tubuh nyonya majikannya lalu memagut bibirnya
dengan mesra, Valeria serasa terbang melayang dibuatnya. Ia pun membalas
pagutan itu dengan bernafsu, tidak peduli pada putrinya yang juga sedang di
ruangan ini. Seiring dengan surutnya gelombang orgasme itu, berangsur-angsur
ketegangan tubuhnya mulai berkurang, ia melepas ciumannya dengan budak itu
dengan nafas terengah-engah. Kasha yang nafsunya masih membara, mengangkat
tubuh Valeria lebih tinggi hingga dadanya tepat di depan wajahnya. Kemudian
dilumatnya payudara itu dengan ganas sambil tangannya meremasi pantatnya.
Sambil menyusu Kasha membawa tubuh nyonya majikannya ke tepi kolam, setibanya
disana didudukannya wanita itu pada bibir kolam sementara ia sendiri masih di
air. Mulut Kasha turun menuju vagina wanita itu.
“Mmmhh…Kasha…uuuhhh
geli !†erangnya merasakan lidah budak hitam itu membelah kemaluannya dan
menggeliat-geliat seperti ular di dalam.
Permainan lidah itu
menyebabkan libido Valeria kembali naik, apalagi di dekat situ ia juga melihat
putrinya sedang disenggamai Pyankhi dalam gaya dogie. Ia memandang putrinya itu
dengan mata sayu, Claudia juga mengangkat wajah memandang ibunya, mereka saling
pandang di tengah sensasi nikmat seolah berkomunikasi melalui tatapan mata masing-masing.
Batin Claudia seolah merasakan ibunya berkata maafkan aku, Valeria pun juga
merasakan anaknya seperti berkata, maafkan aku juga Ma telah bersikap kasar
belakangan ini.
Tubuh Claudia
menggelinjang dan erangannya semakin nikmat, ia merasakan otot-otot dinding
vaginanya berkontraksi dengan cepat dan semakin lama semakin nikmat.
“Nggghh…aaahhh !!â€
sebuah lenguhan panjang mengiringinya ke puncak kenikmatan, tubuhnya mengejang
selama kurang lebih dua menitan.
Melihat putrinya
mencapai orgasme dengan begitu nikmatnya, Valeria semakin horny, ia menekan
wajah Kasha ke vaginanya dan mengatupkan kedua paha mulusnya mengapit
kepalanya.
“Terusshh Kasha,
mmmhh…enak…jilat aku sepuasmu !†wanita cantik itu mendesah keenakan.
Lidah Kasha
bergerak-gerak liar menjilati bagian dalam vagina nyonya majikannya, lidah itu
juga telah menemukan bagian klitoris yang sensitif. Valeria seperti merasa ada
sengatan listrik setiap Kasha memainkan daging kecil itu dengan lidahnya. Ia
menggigit bibir dan mengepalkan tangan menahan sensasi luar biasa itu. Setelah
sepuluh menit lebih menikmati lidah Kasha pada vaginanya, ia turun ke air dan
memeluk budak itu. Kasha menatap wajah nyonya majikannya yang cantik, rambut
hitam panjangnya basah terurai, belum lagi wajah cantik khas wanita Romawi dan
mata birunya yang sensual itu. Bibirnya yang basah dan indah itu membuat Kasha
tidak tahan untuk tidak melumatnya. Merekapun berciuman sambil berpelukan erat
sekali.
“Masukan, aku gak
tahan lagi†perintah Valeria dengan suara mendesah.
Kasha menuruti
perintah itu, ia menekan kepala penisnya ke bibir vagina Valeria. Penis itu
menerobos masuk membelah vaginanya di dalam air sana.
“Oohh…besarnya, terus
Kasha…aku menyukainya, aahh!†Valeria semakin mengerang tak karuan dan
mengeluarkan kata-kata erotis yang tidak pernah terucap dalam kesehariannya.
Valeria mendesah
merasakan penis besar Kasha menyodok-nyodok vaginanya. Budak hitam itu terus
menggenjotnya dengan kedua tangan menopang kaki wanita itu sehingga tubuh
Valeria melayang di air tanpa menyentuh bumi, hanya punggungnya yang bersandar
ke dinding kolam. Erangan nikmatnya sesekali terhambat ketika mulut mereka
saling berpagutan. Kasha melepaskan pegangannya pada kaki kanan Valeria,
tangannya yang hitam kasar itu merayap di kulit putih mulus Valeria hingga
sampai pada payudaranya. Ia meremas payudara wanita itu dengan gemas,
jari-jarinya dengan nakal memain-mainkan putingnya hingga makin mengeras.
Sementara itu, sekitar tiga meter dari mereka Pyankhi yang masih perkasa sedang
asyik berlutut diantara kedua belah paha Claudia dan menusuk-nusuk vagina gadis
itu dengan penisnya. Claudia sedang dalam posisi duduk di kolam dengan menekuk
lututnya dan bertumpu dengan telapak tangannya, alat kelamin keduanya beradu di
bawah air dan menimbulkan riak di sekitarnya.
“Nona
Claudia…uugghh…seretnya memek Nona…enaakkhh !†Pyankhi menceracau sambil terus
menggenjot vagina gadis itu.
Penis Pyankhi makin
berkedut-kedut ketika di ambang klimaks, ia menggeram merasakan penisnya
seperti diperas di dalam vagina Claudia.
“Demi
dewa-dewa…ooohh, enak sekali Nona !†budak hitam itu begitu menikmati
orgasmenya sampai matanya merem-melek.
Kembali Claudia
merasakan cairan hangat mengisi vaginanya seperti beberapa hari lalu. Lalu ia
rasakan juga penis itu semakin mengecil di vaginanya hingga ditarik keluar oleh
pemiliknya. Ceceran cairan putih kental nampak melayang-layang di air ketika
Pyankhi mencabut penisnya.
Sementara itu
pergumulan antara Kasha dan Valeria juga semakin bergairah. Budak hitam itu
menyetubuhinya sambil mulutnya menciumi, mulut, leher, dan telinganya. Kedua
kaki Valeria melingkari pinggang Kasha seolah ingin ditusuk lebih dalam.
Akhirnya Valeria pun tak tahan lagi, tubuhnya mengejang, kuku tangannya
mencakar punggung Kasha sambil mengerang panjang, orgasme kali ini sungguh
dahsyat apalagi saat itu Kasha terus menyodokan penisnya.
“Aaarrgghh !†Kasha
melenguh kuat sambil menekan penisnya sedalam mungkin di vagina majikannya,
penis itu mengeluarkan spermanya mengisi rahim Valeria.
Selama beberapa detik
lamanya, tubuh mereka mengejang hingga akhirnya melemas. Kaki Valeria terlepas
dari pinggang budaknya dengan lemas, ia dapat mendengar suara nafas budak itu
yang menderu-deru di dekat telinganya. Kasha memeluk erat majikannya sehingga
ia pun dapat merasakan payudara wanita itu menekan-nekan dada bidangnya di
tengah nafasnya yang memburu. Perlahan kesadaran Valeria berangsur pulih, ia
mengamati sekeliling, putrinya yang sedang beristirahat bersandar di tembok
kolam sedang memandanginya, saat itulah rasa malunya mulai timbul lagi,
wajahnya memerah dan ia menunduk tidak berani menatap putrinya yang tersenyum
kecil padanya. Pyankhi saat itu sedang menyalakan pelita yang menggantung di
beberapa sudut ruangan itu berhubung langit di luar mulai gelap. Nyala api dari
pelita-pelita itu kini memberi penerangan di tempat pemandian itu menambah
kesan eksotis pada suasananya. Valeria merasa tatapan mata kosong dari kedua
patung yang berdiri tegak pada masing-masing sisi kolam itu sedang terarah
padanya menyaksikan perbuatan terlarangnya.
Tiba-tiba Kasha
merasakan lengan kanannya dirangkul dan sebuah payudara lengan berotot itu.
Nona majikannya, Claudia, telah berada di sampingnya dengan tersenyum menggoda
padanya dan pada Valeria yang menatap bengong padanya. Ditariknya lengan budak
itu yang satunya hingga memeluknya lalu ditariknya wajah kasar itu mendekat
padanya, Kasha sendiri bengong melihat tingkah liar nona majikannya itu, hingga
bibir mereka bertemu. Claudia memang sengaja melakukan hal itu untuk
memanas-manasi ibunya.
“Claudia…Kasha…!!â€
kata Valeria terperangah memandangi putri dan budaknya bercumbu dalam jarak
hanya sebahu di hadapannya, meskipun sehari-hari ia terbiasa tegas memerintah,
namun kali ini ia tak kuasa melarang mereka, karena dirinya juga sudah kotor,
mana mungkin ia melarang sementara dirinya sendiri berbuat yang sama.
Berbagai perasaan
semakin bercampur aduk dalam hati Valeria melihat keduanya semakin larut dalam
gairah. Ia melihat bagaimana lidah mereka saling beradu dan nafas mereka makin
memburu. Tangan Kasha mengelusi punggung, paha dan pantat putrinya, dada mereka
saling berhimpitan. Di bawah air sana Claudia meraih penis Pyankhi dan
menggenggamnya dengan jari-jari lentiknya, penis itu ternyata sudah bangkit
lagi. Tiba-tiba sebuah tangan mendarat di bahunya, Valeria menoleh ke belakang
dan melihat Pyankhi berjongkok di sana sambil nyengir.
“Emm…Nyonya mau sama
saya ?†tanyanya.
Valeria tidak tahu
harus menjawab bagaimana, matanya sesekali memandang penis Pyankhi yang
menggantung dan sudah ereksi lagi, tubuh kekar budak itu memberi kesan seksi
padanya. Tanpa berkata apa-apa ia menjulurkan tangan ke arah Pyankhi dan budak
itu pun membantunya naik ke atas.
Setelah naik ke bibir
kolam, Valeria mengusap ke belakang rambut hitamnya dengan kedua tangan. Mata
Pyankhi menatap kagum pada tubuh nyonya majikannya yang basah, sungguh ibu dan
anak sama-sama memiliki kecantikan bagaikan dewi, wajah Valeria sekilas agak
mirip dengan Monica Belluci, aktris Italia terkenal pada masa kini. Tubuh
wanita ini walau pernah melahirkan tidak kalah indah dari putrinya, perutnya
tetap rata dan tidak ada lipatan lemak, payudaranya yang sedikit lebih besar
dari putrinya juga masih kencang dan menggiurkan, juga bulu-bulu hitam lebat
yang tumbuh di kemaluannya. Valeria meraba dada bidang Pyankhi sambil
perlahan-lahan tubuhnya turun hingga berlutut, lalu diraihnya penis yang telah
menegang itu. Tanpa basa-basi lagi ia membuka mulut dan memasukan penis itu ke
dalamnya. Budak Nubia itu mengerang nikmat ketika lidah majikannya menjilat
kepala penisnya. Valeria yang mulai kembali dikuasai birahi mengemut-emut penis
itu, lidahnya terkadang menggelitik lubang kencingnya sehingga tubuh budak itu
bergetar dan mulutnya makin menceracau tak karuan. Saking nikmatnya Pyankhi
ikut menggerakkan pinggulnya seakan menyetubuhi mulut wanita itu. Tidak sampai
sepuluh menit Valeria mengoral penis Pyankhi, ia melepas penis itu dari
mulutnya karena merasa penis besar itu membuat mulutnya pegal dan ingin minum.
Ia menggandeng tangan Pyankhi dan berjalan menuju ke baki yang diatasnya
terletak poci berisi anggur berkualitas. Ia duduk di pinggir kolam menuangkan
isi poci ke dalam gelas anggur dan meminumnya.
“Kau juga haus
Pyankhi ?†tanyanya yang dijawab budak itu dengan anggukan, “kalau begitu mari
sini dan ambil bagianmuâ€
Pyankhi melongo
melihat majikannya menumpahkan anggur itu ke tubuhnya, anggur merah itu
mengalir turun dari bahu membasahi payudara, perut dan vaginanya. Valeria
sengaja duduk dengan mengatupkan erat sepasang pahanya sehingga minuman itu
tertampung di daerah pangkal pahanya.
“Ayo, kau tunggu apa
lagi ?†tanyanya dengan suara mendesah yang menggoda.
Pyankhi segera
merangkak maju menjilati anggur itu mulai dari dadanya, dengan bernafsu ia
melumat kedua payudara yang berlumur anggur itu, mulutnya lalu turun ke perut
dan menyeruput anggur yang tertampung di pusar, terus turun lagi dan ia
benamkan wajahnya di selangkangan wanita itu dimana sebagian besar anggur
tertampung.
“Ssluurp…sssrrpp !â€
demikian bunyinya ketika Pyankhi menyedot anggur itu diantara lipatan paha
Valeria.
“Oohh…yah, mmmm !â€
desahnya merasakan lidah dan bibir budak itu bergerilya di bawah sana.
Ketika anggur itu
mulai habis, Pyankhi melebarkan paha majikannya dan menjilati sisa-sisanya di
liang vagina dan bulu-bulu kemaluannya yang lebat. Sungguh sebuah cara yang
paling erotis dalam menikmati anggur.
Habis menikmati
lelehan anggur itu, Pyankhi membuka paha majikannya sambil satu tangan memegang
penisnya yang terarah ke liang senggama. Valeria memejamkan mata, ia menahan
nafas ketika ujung penis raksasa itu menyentuh bibir vaginanya.
“Eemmhhh…uuhh !†desahnya
merasakan sedikit demi sedikit penis itu memasuki vaginanya.
Tangan Pyankhi
mendarat di payudara kirinya dan memberikan remasan lembut, tapi Valeria tetap
mengkonsentrasikan kenikmatannya pada penis yang mulai beraksi dengan pelan.
Sebentar saja Pyankhi sudah membawanya hanyut dalam lautan birahi, nafasnya
makin tidak teratur dan tubuhnya tersentak-sentak setiap pria itu menghujamkan
penisnya. Di dekat situ putrinya, Claudia, juga sedang mengarungi lautan
kenikmatan bersama Kasha. Claudia menyandarkan sikunya pada dinding kolam
dengan pantat agak ke belakang dan Kasha menggenjotnya dari belakang dengan
kecepatan cukup tinggi. Sambil menggenjot tangan Kasha bergerilya menjelajahi
kemulusan tubuh Claudia, terutama payudaranya yang menggelantung dan pantatnya
yang bulat padat.
“Ohh…oohhh…aku sudah
mau keluar…entot aku lebih kuat !†Claudia begitu tak dapat menahan diri sampai
harus mengucapkan kata-kata seperti itu.
Tak lama kemudian
vaginanya berkontraksi dengan cepat mencengkram kuat penis Kasha. Claudia
mendapat orgasme yang luar biasa sampai tidak ingat apa-apa lagi selain
kenikmatan itu sendiri. Ia mengerang sekuat-kuatnya dengan tubuh mengejang,
cairan kemaluannya seperti tertumpah semua dan tercampur dengan air kolam.
Ternyata budak itu
cukup pengertian juga, ia tahu Claudia sudah kepayahan sehingga ia berhenti
menyetubuhinya.
“Nona mau istirahat
dulu?†tanyanya
Claudia hanya
mengangguk lemas, nafasnya sudah putus-putus dan tulang-tulangnya serasa mau
copot usai bersetubuh dengan budaknya yang bertenaga kuda itu. Kasha pun
membawanya ke daerah dangkal sehingga Claudia bisa duduk berselonjor dengan
bersandar ke dinding kolam. Sementara Claudia beristirahat, Kasha yang masih
ingin menuntaskan nafsunya menghampiri temannya yang sedang menyetubuhi nyonya
majikan mereka. Ia berlutut di samping kepala Valeria, wanita yang nafsunya
sudah diubun-ubun itu langsung meraih penis budaknya dan membawanya ke mulut.
Sambil merasakan nikmatnya penis Pyankhi menyodoki vaginanya, ia mengulum penis
Kasha, sesekali ia mengisapnya dengan kuat hingga benda itu bergetar dan
pemiliknya mengerang. Kasha tidak membutuhkan waktu lama untuk menuntaskan
hasratnya karena tadi ia sudah cukup lama menyetubuhi Claudia, sehingga sekitar
lima menit saja dioral Valeria ia sudah mengejang dan menumpahkan spermanya
yang kental di mulut nyonya majikannya. Valeria berusaha mengisap cairan itu
namun karena tubuhnya bergoncang-goncang sebagian cairan itu keluar dari mulut
membasahi daerah bibirnya. Ia juga sempat membersihkan penis budaknya hingga
semprotan spermanya berhenti dan menyusut. Tak lama kemudian Valeria pun
mencapai puncak bersama Pyankhi. Pyankhi mengerang sambil meremas payudara
Valeria dengan keras sehingga menimbulkan rasa nyeri, namun rasa sakit itu
merupakan bagian dari kenikmatan karena saat itu Valeria pun mencapai orgasme.
Wanita itu melengkungkan punggungnya, kakinya mengejang dan jari-jarinya
tertekuk. Keduanya mengerang dan larut dalam orgasme total, sungguh ini
merupakan sebuah kenikmatan seks yang sempurna.
Pyankhi ambruk
menindih Valeria yang juga sudah terkulai lemas, penisnya masih tertancap di
vagina wanita itu. Dalam sisa-sisa orgasmenya, Valeria menggerakan lidah
menjilati sekujur bibirnya yang belepotan sperma Kasha. Valeria baru teringat
lagi pada putrinya, dengan sisa-sisa tenaga, ia mengangkat kepalanya dan
melihat sekeliling mencari Claudia. Dilihatnya putrinya ternyata sedang
berenang di kolam itu, kini ia berenang mendekatinya. Ia berhenti di sampingnya
sambil menatapnya tanpa berbicara.
“Sudah, kalian
keluar…tinggalkan kami berdua disini !†katanya sambil menepuk punggung Pyankhi
yang menindih tubuhnya.
Kedua budak itu
segera memakai kembali pakaian mereka dan mohon diri.
“Sebentar, tolong
ditambah lagi anggurnya sebelum kalian pulang !†perintahnya lagi sambil
menyodorkan poci anggur itu.
Mereka pun keluar
meninggalkan ibu dan anak itu berdua di sana. Valeria turun ke air, mereka
berdiri berhadapan dan matanya saling berpandangan, namun tak satu kata pun
terucap dari mulut mereka. Tiba-tiba Valeria maju dan memeluk putrinya itu,
dari matanya mengalir sebutir air mata, dibelainya rambut putrinya yang basah
itu dengan lembut.
“Maafkan Mama sayang,
ini semua salah Mama sampai kamu terlibat†katanya dengan nada bergetar.
“Saya juga minta maaf
Ma, saya mengerti Mama khilaf karena kesepian, saya juga tidak seharusnya
menambah susah Mama dengan sikap saya belakangan ini†Claudia juga menangis
dalam dekapan ibunya, ia tahu bagaimanapun ibunya sangat menyayanginya.
Ketika sedang
berpelukan dan mencurahkan isi hatinya selama ini, Pyankhi datang dan mengetuk
pintu membawa poci yang sudah terisi anggur.
“Letakan disana dan
pulanglah !†perintah Valeria.
Setelah Pyakhi pergi
mereka mulai saling terbuka mengenai masalah ini sambil berendam dan menikmati
anggur. Di ruangan itu, selain suara percakapan mereka yang terdengar hanya
percikan air dari pancuran kepala singa. Valeria geram sekali ketika putrinya
menceritakan bagaimana mereka awalnya melakukan hal itu padanya dengan cara paksaan
atau bisa dibilang pemerkosaan. Namun Claudia menenangkan mamanya, ia
mengatakan toh semuanya sudah terjadi dan yang penting sekarang adalah
mengambil hikmahnya. Claudia pun mulai mengerti perasaan mamanya yang telah
lama ditinggal papanya yang pergi berperang, ia juga mengerti perbedaan antara
cinta dan seks. Hubungan mereka yang sempat membeku selama beberapa waktu
terakhir pun kembali menghangat. Mereka ngobrol di kolam hingga langit sudah
memancarkan cahaya bintang dan bulan sabit menggantung di atas dengan cahayanya
yang indah. Setelah membersihkan diri dan berpakaian, merekapun kembali ke
kamar dan tidur. Malam itu Claudia tidur di kamar ibunya sambil ngobrol-ngobrol
melepas rindu seakan mereka baru bertemu lagi setelah lama berpisah. Malam pun semakin
larut hingga akhirnya ia tertidur kelelahan, Valeria mengecup kening putrinya
dengan penuh kasih sebelum ia sendiri tidur.
Sejak itu Kasha dan
Pyankhi semakin betah bekerja di rumah keluarga Suetonius. Mereka sering
mendapat pelayanan seks gratis dari ibu dan anak itu selain makanan dan
kebutuhan hidup sebagai budak. Baik Valeria maupun putrinya mulai tenggelam
dalam hedonisme liar ala kelas atas Romawi pada saat itu. Hubungan terlarang
itu bisa terjadi dimanapun dan kapanpun bila ada kesempatan, di kamar Valeria,
kamar Claudia, kolam, ruang baca, bahkan pernah juga di ruang penyembahan yang
suci tempat berdoa dan menaruh persembahan pada dewa. Namun di depan umum ibu
dan anak itu tetap menjaga kelakuannya sehingga dimata rakyat Roma mereka
nampak tak bercela.
Jenderal Suetonius
kembali ke Roma sebulan lebih setelah pesta orgy di kolam malam itu. Ia,
Vitelus, calon menantunya, para perwira lainnya dan juga pasukannya disambut
meriah dan dielu-elukan sebagai pahlawan ketika memasuki kota Roma, Kaisar Tiberius
menyambut mereka secara pribadi di depan gerbang istana kekaisaran. Kepulangan
Suetonius ini memang lebih cepat dari yang dijadwalkan karena mereka telah
berhasil meraih kemenangan yang cukup signifikan dari kaum pemberontak Yahudi
ekstrim. Barnabas, salah satu bandit dan kepala pemberontak yang berpengaruh
telah berhasil diringkus dan dijebloskan ke dalam penjara untuk menunggu
hukuman mati. Penangkapan Barnabas ini berakibat jatuhnya moral para
pemberontak lain, mereka ketar-ketir dan sebagian menyerahkan diri pada
pemerintah pendudukan Romawi sehingga keadaan di Israel sana berangsur-angsur
pulih. Pemerintah pusat pun memutuskan menarik sebagian besar pasukan dari sana
dan menyisakan beberapa legiun kecil untuk berjaga-jaga, urusan selebihnya atas
tanah jajahan itu diserahkan sepenuhnya pada Pontius Pilatus, gubernur jenderal
Romawi untuk wilayah Israel dan sekitarnya. Pilatus sendiri masih mengemban
tugas yang cukup berat, memang pemberontakan bersenjata relatif sudah
berkurang, namun ia masih harus menangani urusan mengenai agama baru yang mulai
tersebar di wilayahnya dari pengkhotbah keliling yang berasal dari keluarga
tukang kayu. Namun kita tidak akan membahas masalah ini lebih jauh karena bukan
itu inti cerita ini.
Sejak kepulangan
Suetonius, Valeria dan Claudia mengurangi hubungan gelap mereka dengan kedua
budaknya, namun mereka masih sesekali melakukannya secara sembunyi-sembunyi
atau melakukan hubungan badan secara kilat. Suatu hari Kasha dan Pyankhi
dipanggil menghadap Claudia di kamarnya. Claudia sendiri yang membisikan ajakan
ini ketika sedang lewat di depan Pyankhi yang ketika itu sedang mengangkut
karung terigu ke dapur. Saat itu hari hampir sore dan Suetonis masih belum
pulang, biasanya ia agak malam baru tiba di rumah karena kesibukannya.
Tok…tok…pintu diketuk saat Claudia sedang menyisir rambutnya di depan cermin.
“Iya, sebentar !â€
sahutnya sambil berlari kecil ke pintu.
Pintu dibuka dan
kedua budak itu muncul sambil tersenyum-senyum.
“Nona memanggil kami
?†tanya Kasha sambil cengengesan.
“Iya benar, tapi
kalian harus tangkap aku dulu kalau mau menikmatiku !†jawab Claudia dengan
senyum menggoda, lalu ia beringut ke belakang menghindari mereka.
“Hehe…Nona ini tambah
nakal aja yah !†kata Pyankhi merasa tertantang.
Gadis itu berlari
mengitari ranjang dan dengan lincah berkelit ke sisi lain sambil tertawa
cekikikan. Tantangan itu membuat mereka semakin bernafsu ingin menangkapnya.
Bantal di ranjang sampai berantakan dan kelambu ranjang itu tertarik hingga
robek sedikit ketika mereka hendak menangkapnya.
“Hiya…kena kamu, ayo
sini hahaha !†Kasha berhasil menangkapnya ketika gadis itu naik ke ranjang
ingin menghindar dari Pyankhi yang mengejar dari belakang.
“Aaaiihh !†jerit
Claudia yang terkejut diterkam Kasha.
“Nona, tolong jaga
suaranya, sekeras itu bisa-bisa terdengar kalau ada yang lewat !†budak itu
agak kaget mendengar jeritan yang lumayan keras itu.
“Hihihi…maaf soalnya
kamu ngagetin aja sih !†tawanya nakal, “Oohh…jangan, hentikan, kalian kurang
ajar yah !†ia meronta ketika tangan-tangan mereka mulai menggerayanginya.
Rontaan Claudia yang
disertai penolakan-penolakan justru membakar nafsu mereka. Kasha berusaha
mencium bibir Claudia, namun gadis itu terus menggeleng-gelengkan kepalanya.
Mereka tertawa-tawa dan terus berusaha membuka pakaiannya, tangan Kasha
berhasil menyingkap bagian roknya sehingga paha mulusnya tersingkap, Pyankhi
yang berlutut di sampingnya berusaha menurunkan gaun itu lewat bahunya, namun
tangan Claudia terus menghalanginya.
“Hehehe…Nona ini mau
sok malu-malu yah ayo, manis ayo sini !â€
Kasha baru saja
berhasil memegang kedua pergelangan tangan Claudia dan menurunkan wajah hendak
menciumnya ketika tiba-tiba ‘brak’ pintu kamar itu didobrak dari luar. Dalam
sekejap tiga orang prajurit menghambur masuk, salah seorang yang membawa tombak
langsung menghujamkan senjatanya ke dada Kasha yang baru membalikkan badan dan
belum hilang rasa kagetnya.
“Aaarrrghh !â€
teriaknya dengan mata melotot sambil memegangi gagang tombak yang menembus
dadanya.
Prajurit itu menarik
kembali tombaknya dan Kasha tersungkur di lantai bersimbah darah. Claudia pun
menjerit dan menutup wajah dengan telapak tangan.
“Claudia…kurang ajar
! apa yang kalian lakukan pada putriku ?!†jerit Valeria yang tiba-tiba masuk
ke kamar dan menunding Pyankhi yang masih terkejut.
“A-apa…apa-apaan ini
?†tanya Pyankhi tergagap.
“Pengawal cepat
tangkap dia !†perintah Valeria dengan penuh amarah.
Ketiga prajurit itu
segera mendekati Pyankhi hendak meringkusnya. Namun budak itu melempar bantal
pada mereka dan berusaha kabur.
“Tidak…ini fitnah !â€
jerit Pyankhi seraya mendorong prajurit yang meraih lengannya, didorongnya
prajurit itu hingga terdorong ke belakang menubruk temannya.
Diambilnya sebuah vas
dari meja dan dilemparnya pada mereka, benda itu hampir mengenai prajurit yang
menombak Pyankhi tadi kalau saja ia tidak cukup gesit menghindarinya. Dengan
panik ia membuka pintu balkon dan terjun ke bawah. Kamar itu terletak di tingkat
dua, walaupun tidak terlalu tinggi dan dibawahnya tanah berumput, namun karena
panik dan terburu-buru, budak itu terkilir pada jari kakinya ketika mendarat.
Ia berusaha kabur dengan langkah agak tertatih-tatih. Prajurit yang berada di
kamar meneriakinya dari balkon sehingga dalam waktu singkat ia sudah terkepung
para prajurit yang patroli di sekitar taman. Pyankhi sempat melawan ketika
hendak ditangkap, namun akhirnya mereka berhasil menangkapnya dan menghujaninya
dengan bogem agar ia tidak melawan lagi. Para prajurit yang mendobrak kamar
tiba di bawah, di belakang mereka juga nampak Valeria yang berjalan sambil
mendekap putrinya yang menangis terisak-isak.
“Kalian memang
bajingan, keluarga kami telah memperlakukan kalian dengan baik, tapi kalian
malah membalas air susu dengan air tuba !†Valeria menundingnya dengan marah.
Sekejap saja di taman
itu telah berkerumun para prajurit dan budak yang sedang bekerja untuk melihat
keributan apa yang terjadi.
“Nyonya kami juga
temukan ini di tempat mereka†seorang prajurit menyerahkan sebuah kantong kecil
berisi perhiasan wanita pada Valeria.
“Benar-benar menyesal
aku memelihara kalian, tidak akan ada ampun bagimu budak hina !†bentak
Valeria.
“Nyonya…apa maksud
semua ini ? ini fitnah…anda…mengapa anda menje…aahhhh !†kata-kata itu tidak
sempat terselesaikan, ia melihat ke bawah dengan mata terbelakak
Semua orang juga
kaget dan menahan nafas, termasuk dua prajurit yang menelikung tangannya ke
belakang, mereka mundur dengan mulut terperangah, beberapa budak wanita bahkan
tidak bisa menahan jeritannya melihat darah yang mengalir. Valeria bergerak
cepat meraih gladius (pedang pendek senjata tentara Romawi) yang terselip di
pinggang prajurit di dekatnya dan merangsek ke depan menikam budak itu sebelum
ia bicara lebih banyak.
“Ini hukuman atas
kelancangan pada putriku !†katanya dengan ekspresi dingin, “maaf aku harus
melakukan ini†lanjutnya dengan berbisik dekat telinganya.
Valeria mencabut
gladius itu dari perut Pyankhi yang langsung ambruk di kakinya. Darah budak itu
membasahi tangan, pakaian dan gladius yang dipegangnya. Valeria lalu
mengumumkan ‘dosa-dosa’ kedua budak itu pada semua yang hadir. Dikatakan bahwa
mereka telah mencuri perhiasan dan berusaha memperkosa sebelum kabur. Ia
berkata para budak yang menyaksikan agar hal ini dijadikan peringatan bagi
siapapun yang mencoba berontak.
Ketika Suetonius
pulang dan mendengar kabar ini, murkalah ia, pengawasan pada para budaknya
diperketat. Beberapa hari kemudian berita ini menyebar ke seluruh kota sehingga
pada golongan elite pun memperketat pengawasan mereka terhadap budak-budaknya
agar jangan sampai terjadi pemberontakan budak seperti Pemberontakan Spartacus
(73-71 SM) pada masa lampau. Sebenarnya Kasha dan Pyankhi memang sengaja
dijadikan tumbal oleh Valeria dan putrinya yang mulai merasa tidak nyaman
setelah kepulangan Suetonius, mereka takut skandal ini terkuak dan akan menodai
reputasi keluarga. Maka diputuskan agar kedua budak yang pernah menjadi mesin
pemuas mereka itu harus dihabisi demi mengubur skandal ini. Jeritan Claudia
ketika diterkam Kasha adalah sinyal bagi Valeria yang bersembunyi di dekat
kamar itu untuk memanggil prajurit di bawah dan perhiasan yang ditemukan di
kamar mereka sebenarnya adalah hadiah yang diberikan Valeria pada mereka
sebagai ‘upah lembur’. Kedua budak itu tidak pernah menyangka hadiah dan ajakan
terakhir itu akan menjadi bumerang bagi mereka. Valeria atas perbuatannya
membunuh budaknya sempat diadili, namun atas pembelaan suaminya dan beberapa
teman ia bebas atas dasar untuk membela diri dari budak yang berontak dan
hendak menodai putrinya. Ia bahkan mendapat simpati publik karena telah
bertindak sebagai seorang ibu yang membela putrinya yang ‘hampir diperkosa’.
Skandal yang melibatkan ibu dan anak itu pun terkubur selama-lamanya.
|