|
Akhirnya kau ciptakan Jarak yang tak terlihat
Ada hati yang perlahan menjauh Ada rindu yang perlahan melemah Ada cinta yang perlahan mengigau
Langit tlah meredup Harap di hati tlah pudar Mimpi pun tlah terbunuh
Tlah kulihat pias pucat di wajahnya Tlah kulihat airmata yang mengering di pipinya Tlah kulihat binar itu yang kini tlah padam
Ia hanya menggeleng lemah Tiada kata....
Ia masih seperti gadisku seperti tahun yang lalu Gadis yang sama Dengan paras yang sama
Ketika ia memilih untuk meninggalkanku
Tiada seorang pun yang dapat meredakan ombak Tiada seorang pun yang dapat menenangkan angin
Hanya ia Yang mampu membuatku bersimpuh Memohon hatinya untukku Ia, sang pemetik badai
Tak pernah kulupa tatap matanya Menghunjam ke jiwaku Dan ia pun berlalu….
Tak mudah memahami hatinya keras bagai pualam, lembut laksana sutra Tiada hati yang abu-abu Hitam dan putih Tegas dan tegar Tak ragu berkeputusan walau harus menangisi jejak sepanjang jalan
Tiada sedu, Parasnya beku menatapku. Akhirnya ia bersuara, “Tlah kusudahi sebuah perjalanan perjalanan sia-sia sebuah harap dan mimpi. Kini kuyakin harap dan mimpi tak pernah ada. Yang ada hanyalah kenyataan yang harus dihadapi. Dan aku akan melaluinya, lagi. Tanpa airmata.â€
Suara datar itu serasa mencabik-cabikku, Kesedihannya tak terbias di paras bekunya
Paras yang sama....
Setahun, tahun yang lalu ketika ia memilih untuk meninggalkanku
Setahun kubiarkan kenangan mengisi anganku Gadis manja penuh semangat Matanya yang slalu berbinar Kerinduannya yang membuncah saat bertemu Hangat peluknya masih terasa di tubuhku Dan akhirnya semua lenyap karena dua sisi hidup.....
Setiap detik kujeritkan pedihku Betapa permata indah tlah terlepas dari genggamanku Seorang gadis Yang mampu meredakan ombak Menenangkan angin Setia menantiku dalam harap Yang terkandaskan dalam titik yang berbeda....
Paras beku itu… Setahun, tahun yang lalu Hanya menatapku dan ia pun berlalu..
Kini.... Paras beku itu tercenung Di sini, di sebuah tempat yang sunyi
Ku rasakan keletihannya Kesendiriannya Tiada pernah bisa dibagi
“Mungkin aku memang tak boleh memiliki. Sebuah hidup hanya berdua. Mungkin aku harus dimiliki oleh mereka,
Selayak bias orang tuaku Sehingga tiada yang kecewa..â€
Suara yang tetap datar, kurasakan kebencian yang amat sangat telah melelehkan hatinya yang lembut berganti dengan dendam panjang tak berkesudahan
Dan aku hanya bisa tertunduk kecewa... mengapa kau tiada berbeda denganku....
Sungguh ia hanya akan menatapku dan berlalu.
Maafkan aku..... |