|
Pada waktu jaman
Rasulullah masi hidup, ada seorang sahabat yang bertanya,”Ya Rasul, dimanakah
Allah berada? Jika Dia jauh, aku akan berdo’a dengan berteriak. Tapi jika Dia
dekat aku akan berdo’a dengan berbisik.” Lalu setelah itu turunlah ayat ini,
Surat Al Baqarah : 186
“Dan
apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah)
bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdo’a
apabila ia memohon kepada-Ku, maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala
perintah)-Ku dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku agar mereka selalu berada
dalam kebenaran”
Sesungguhnya ALLAH ITU DEKAT DENGAN KITA. Dekatnya Allah dengan hamba-Nya, tidak
sama dengan dekatnya antara dua orang yang duduk bersebelahan, tapi dekatnya
Allah dengan hamba-Nya tidak bisa dilogika oleh pikiran kita yang terbatas ini.
Tetapi kalau ALLAH ITU DEKAT, mengapa kita tidak bisa merasakan kehadiran-Nya di hati kita? Ini ibarat
seorang pengemis yang berada di depan sebuah bank yang meyimpan uang milyaran
rupiah. Tapi pengemis itu tidak bisa merasakan uang itu, karena adanya sebuah
tembok yang menghalanginya. Begitu juga dengan kita, kita tidak bisa merasakan
keberadaan Allah, boleh jadi karena ada sebuah tembok yang menghalangi kita.
TEMBOK ITU ADALAH
KEMAKSIATAN KITA.
SADARKAH KITA AKAN HAL
ITU?
|